di umur 12 tahun, suatu hari tanpa sengaja saya mendengar lagu berjudul kasmaran di sebuah tape recorder. entah mengapa saya tiba-tiba merasa senang dengan lagu itu, padahal saya baru akil balik waktu itu. belakangan baru tahu kalau penyanyi lagu itu iga mawarni. iga begitu memukau waktu itu. waktu pun terus berlalu. beberapa kali kemudian saya menyaksikan iga mawarni di televisi. kagum akan suaranya dan wajah manisnya.
malam ini saya duduk merumput di halaman depan gedung tua fort rotterdam. langit cerah. udara bulan agustus berembus hangat. di sebuah panggung megah, iga mawarni melantunkan "andai". suaranya tetap jernih. sangat jazzy. ini pertama kalinya saya melihatnya langsung. saya ke rotterdam malam itu tujuannya menonton jazz@fort_rotterdam yang dihadiri ratusan musisi jazz. tapi saya paling saya tunggu memang penampilan iga.
meminjam kamera seorang teman di lokasi pertunjukan, saya lalu menjepret iga di panggung sebanyak lima atau enam kali. saya puas dengan hasil foto saya. mungkin komposisi dan pencahayaan foto itu tidak begitu baik, tapi saya selalu menganggapnya baik. seorang teman kemudian mempertanyakan mengapa saya harus menyenangi penyanyi jazz, bukankah sangat banyak penyanyi melayu yang belakangan kian memenuhi ruang di televisi.
lebih jauh lagi, teman itu bertanya mengapa saya suka jazz. apa alasannya, kapan mulai, dan banyak lagi. saya mengatakan, "jazz cocok dengan jiwa saya!". saya tidak tahu apa yang mendorong saya harus ke rotterdam malam ini. apa yang membuat saya rela berselonjoran di halaman rettordam. apa yang mebuat saya menjauhi liputan. jawabnya jazz.
saya sulit mendefiniskan apa alasan sehingga saya suka jazz. jazz itu didengarkan. bukan untuk dipikirkan. itu saja.
Sabtu, 01 Agustus 2009
Jumat, 03 April 2009
phk
tiga hari ini saya sedang tidak nyaman melakukan tugas liputan. ada peristiwa yang sungguh sangat mengganggu batin saya. tiga hari lalu, pejabat di dprd, kantor tempat saya posting, memberhentikan dua puluh orang pegawainya. mereka di PHK karena tidak termasuk sebagai calon PNS yang namanya ada di database. pemprov sulsel menolak memperpanjang kontrak ke 20 pegawai tidak tetap (ptt) tersebut karena alasan nama tidak ada di database.
saya merasakan ada kesewenang-wenangan di balik kebijakan itu. sebuah keputusan yang menurut saya sangat gegabah. apakah tidak sebaiknya mempertimbangkan matang sebelum melakukan PHK? bagaimanapun ke 20 orang itu punya jasa besar. ada di antara mereka yang mengabdi di dprd sejak 28 tahun silam. itu bukan waktu yang pendek. yang mereka lakukan sebuah pengorbanan panjang yang tidak pantas dibalas dengan secarik kertas berisi pemutusan kontrak secara tiba-tiba. tidakkah dipikirkan bahwa mereka itu punya keluarga? anak yang harus bersekolah. bagi pejabat dprd dan anggota dewan yang bergelimang uang, mungkin tidak akan pernah merasakan betapa bingungnya mereka yang di phk itu kini.
penguasa boleh berdalih bahwa mereka yang di phk tetap diberikan pesangon. tapi di sini bukan sekadar persoalan pesangon saja. phk itu sungguh jelassebuah sikap otoriter. diduga, ke 20 pegawai itu--sembilan diantaranya petugas keamanan--diberhentikan karena usia mereka yang sudah lanjut. ok, itu bisa dimengerti karena petugas keamanan memang butuh seseorang dengan stamina yang
prima. tapi bukankah bisa saja petugas itu ditempatkan di dprd dengan job yang baru, tukang kebun atau tukang merawat halaman misalnya. lagi pula, diakui kalau ptt itu sudah tidak bugar lagi. tapi bukankah 20 tahun lalu mereka masih bugar dan sehat. hemat saya, justru semakin tua petugas itu semakin dia membutuhkan perhatian. bukan malah memberinya surat phk.
salah seorang petugas keamanan yang di phk, kepada saya mengatakan selama ini dia sangat menggantungkan hidupnya pada pekerjaannya itu. dia telah bertugas di tempat itu sejak masih muda. namun cerita itu kini tinggal cerita saja.
saya sadar bahwa setiap tindakan harus dibarengi aturan. saya telah megonfirmasi sekwan mengapa mereka tidak diangkat kembali. namun, dia bersikukuh bahwa keputusan itu tidak bisa lagi diganggu gugat. saya tahu, berita saya keesokan harinya sedang berpretensi membela mereka para korban phk itu. saya sungguh bersedih.
entah apa yang merasuki jiwa sebagian orang di dprd itu sehingga mereka seolah kehilangan kepekaan. tapi saya yakin, sistem kapitalisme yang sedang berlangsung dan menghegemoni kita semua, adalah salahsatu penyebab yang memandulkan kepekaan nurani itu.
saya merasakan ada kesewenang-wenangan di balik kebijakan itu. sebuah keputusan yang menurut saya sangat gegabah. apakah tidak sebaiknya mempertimbangkan matang sebelum melakukan PHK? bagaimanapun ke 20 orang itu punya jasa besar. ada di antara mereka yang mengabdi di dprd sejak 28 tahun silam. itu bukan waktu yang pendek. yang mereka lakukan sebuah pengorbanan panjang yang tidak pantas dibalas dengan secarik kertas berisi pemutusan kontrak secara tiba-tiba. tidakkah dipikirkan bahwa mereka itu punya keluarga? anak yang harus bersekolah. bagi pejabat dprd dan anggota dewan yang bergelimang uang, mungkin tidak akan pernah merasakan betapa bingungnya mereka yang di phk itu kini.
penguasa boleh berdalih bahwa mereka yang di phk tetap diberikan pesangon. tapi di sini bukan sekadar persoalan pesangon saja. phk itu sungguh jelassebuah sikap otoriter. diduga, ke 20 pegawai itu--sembilan diantaranya petugas keamanan--diberhentikan karena usia mereka yang sudah lanjut. ok, itu bisa dimengerti karena petugas keamanan memang butuh seseorang dengan stamina yang
prima. tapi bukankah bisa saja petugas itu ditempatkan di dprd dengan job yang baru, tukang kebun atau tukang merawat halaman misalnya. lagi pula, diakui kalau ptt itu sudah tidak bugar lagi. tapi bukankah 20 tahun lalu mereka masih bugar dan sehat. hemat saya, justru semakin tua petugas itu semakin dia membutuhkan perhatian. bukan malah memberinya surat phk.
salah seorang petugas keamanan yang di phk, kepada saya mengatakan selama ini dia sangat menggantungkan hidupnya pada pekerjaannya itu. dia telah bertugas di tempat itu sejak masih muda. namun cerita itu kini tinggal cerita saja.
saya sadar bahwa setiap tindakan harus dibarengi aturan. saya telah megonfirmasi sekwan mengapa mereka tidak diangkat kembali. namun, dia bersikukuh bahwa keputusan itu tidak bisa lagi diganggu gugat. saya tahu, berita saya keesokan harinya sedang berpretensi membela mereka para korban phk itu. saya sungguh bersedih.
entah apa yang merasuki jiwa sebagian orang di dprd itu sehingga mereka seolah kehilangan kepekaan. tapi saya yakin, sistem kapitalisme yang sedang berlangsung dan menghegemoni kita semua, adalah salahsatu penyebab yang memandulkan kepekaan nurani itu.
Selasa, 24 Maret 2009
waktu
ungkapan klasik mengatkan, seharusnya kitalah yang harus mengatur waktu, bukan justru sebaliknya, waktu yang mengatur kita. pekerjaan sebagai wartawan menuntut saya setiap hari harus menjalani deadline. dengan begitu, tiap hari dikejar waktu. setiap hari pula saya merasa tertekan oleh deadline itu. padahal, sebenarnya mudah saja untuk tidak tertekan dengan deadline, yakni cukup dengan mengatur penggunaan waktu. namun, justru di sinilah kelemahan itu. saya bukan seorang pengguna waktu yang baik.
jam pulang kantor saya tidak pernah jauh dari pukul 00.00 dinihari. waktu istirahat saya parktis hanya lima jam. tidur lima jama awalnya agak berat. namun sekarang sudah terbiasa. banyak yang bertanya, mengapa pekerjaan saya ini demikian berat. pergi pukul 09.00 dan kembali pada pukul 00.00. terhadap mereka yang bertanya itu, saya tidak pernah menjawabnya, karena memang pada dasarnya saya tidak tahu apa jawabannya.
hari ini saya ingin membuat berita bagus dan kuat. sekadar kenang-kenangan dalam menyambut wajah baru koran tempat saya bekerja. namun, karena manajemen waktu saya yang buruk, saya baru bisa tiba di kantor pukul 17.00, sedangkan deadline saya 20.00. dalam rentang tiga jam itu, saya sungguh merasa dikejar-kejar oleh waktu. kalau saja saya bisa datang ke kantor pada pukul 14.00, pasti semuanya akan bercerita lain.
]
tapi itulah saya, yang tak pernah cukup baik mengatur waktu.
sepekan lalu saya berangkat ke bone. lepas kangen dengan saudara-saudara dan sahabat. saya hanya punya waktu dua hari, tapi di kampung saya merasa bahagia sekali. di kampung masih ada hutan, itik berenang, pohon kelapa, anak gembala dan lain-lain. saya menyimpulkan, kebahagiaan bukan karena banyaknya waktu luang, melainkan bagaimana caranya menggunakan waktu itu.
kampung juga banyak menginspirasi saya. di sana ketulusan benar-benar ketulusan. kampung juga lebih bersih, indah, dan tertib. saya ingat sebuah film. seorang bocah sedang berjalan kaki di dekat hutan bersama kakeknya. cucu itu lantas bertanya, mengapa kakeknya memilih tinggal di desa dari pada di kota.
jawaban kakek itu, "Kita tinggal di desa agar tuhan dapat melihat kita dengan leluasa.
jam pulang kantor saya tidak pernah jauh dari pukul 00.00 dinihari. waktu istirahat saya parktis hanya lima jam. tidur lima jama awalnya agak berat. namun sekarang sudah terbiasa. banyak yang bertanya, mengapa pekerjaan saya ini demikian berat. pergi pukul 09.00 dan kembali pada pukul 00.00. terhadap mereka yang bertanya itu, saya tidak pernah menjawabnya, karena memang pada dasarnya saya tidak tahu apa jawabannya.
hari ini saya ingin membuat berita bagus dan kuat. sekadar kenang-kenangan dalam menyambut wajah baru koran tempat saya bekerja. namun, karena manajemen waktu saya yang buruk, saya baru bisa tiba di kantor pukul 17.00, sedangkan deadline saya 20.00. dalam rentang tiga jam itu, saya sungguh merasa dikejar-kejar oleh waktu. kalau saja saya bisa datang ke kantor pada pukul 14.00, pasti semuanya akan bercerita lain.
]
tapi itulah saya, yang tak pernah cukup baik mengatur waktu.
sepekan lalu saya berangkat ke bone. lepas kangen dengan saudara-saudara dan sahabat. saya hanya punya waktu dua hari, tapi di kampung saya merasa bahagia sekali. di kampung masih ada hutan, itik berenang, pohon kelapa, anak gembala dan lain-lain. saya menyimpulkan, kebahagiaan bukan karena banyaknya waktu luang, melainkan bagaimana caranya menggunakan waktu itu.
kampung juga banyak menginspirasi saya. di sana ketulusan benar-benar ketulusan. kampung juga lebih bersih, indah, dan tertib. saya ingat sebuah film. seorang bocah sedang berjalan kaki di dekat hutan bersama kakeknya. cucu itu lantas bertanya, mengapa kakeknya memilih tinggal di desa dari pada di kota.
jawaban kakek itu, "Kita tinggal di desa agar tuhan dapat melihat kita dengan leluasa.
Jumat, 06 Maret 2009
buta hati
pagi ini saya bertemu dengan seorang pria yang matanya buta. dia datang menghampiri saat saya sedang duduk di sebuah kios pejual pulsa telepon seluler. orang itu berumur kira-kira 40 tahun. dia digandeng oleh seorang perempuan yang usianya tampak lebih muda. mungkin itu istrinya, atau saudaranya. saat dia menengadahkan tangannya, spontan saya merogoh saku saya. saya mengeluarkan selembar uang kertas dan memeberinya tanpa berkata-kata. dia lantas mengucapkan kalimat yang maknanya tidak begitu saya mengerti. saya cuma mengira-ngira kalau dia berterima kasih.
saat orang itu berlalu, saya tiba-tiba bertanya pada diri sendiri apakah sewaktu menyodorkan lembaran kertas tadi itu saya dalam kondisi iklhlas? entahlah. karena tidak ingin menggugurkan pahala, saya memilih meyakinkan diri kalau tadi itu saya ikhlas memberi. saya mencoba menyembunyikan keraguan yang muncul tentang orang itu. jujur, saya sempat bergumam di hati, mengapa orang itu rela menggadaikan harga dirinya dengan meminta-minta. bukankah masih ada pekerja lain yang lebih bermartabat. bukankah masih banyak orang cacat lainnya yang tetap kuat merawat harga dirinya dengan mencoba berkreasi tanpa perlu meminta-minta?
saya berharap, semoga orang itu segera terbuka hatinya. saya tahu, kondisi fisiknya yang terbatas bukanlah kehendaknya, melainkan kuasa sang pencipta. tapi tuhan juga memberi umatnya kelebihan lain yang bisa dimanfaatkan dalam menjalani hidup. sampai di titik ini saya merasa harus berucap syukur karena lahir tidak dalam keadaan buta. terlebih saya bersyukur kalau ternyata saya juga tidak tergolong manusia yang buta hati. semoga.
pagi ini juga saya membaca berita menarik di halaman depan koran. sejumlah pemuda membakar topeng seorang tokoh politik nasional. topeng yang dibakar itu bergambar seorang ketua partai besar. itu dilakukan karena pemuda itu kecewa caleg yang didukung dipecat partainya. tokoh asal sulsel itu dipecat karena diduga terlibat korupsi. petugas kpk menangkapnya dengan barang bukti uang senilai miliaran rupiah. pemuda tadi itu tidak hanya membakar, tapi juga mengancam memboikot partai yang memecat tokoh dukungannya itu pada pemilu.
saya tidak tahu apa yang membuat pemuda itu sebegitu rupa membela sang tokoh. kalau mereka kecewa, saya paham. tapi bukankah ada proses hukum yang akan membuktikan apakah sang tokoh bersalah atau tidak. kalau kecewa tokohnya dipecat, bukankah itu memang sudah hak partai. mengapa tidak mendukung dengan cara-cara elegan saja, misalnya meminta sang tokoh tegar dan berkomitmen tidak akan memilih caleg lain selain sang tokoh.
seorang kolega tokoh yang ditangkap itu saya minta komentarnya sesaat setelah sang tokoh tertangkap. dia juga seorang wakil rakyat yang bertugas di jakarta. awalnya ia menolak berkomentar karena persoalan tenggang rasa. namun, dia akhirnya mengatakan, saatnya rakyat memilih wakilnya sesuai pertimbangan nurani. bukan karena uang. demokrasi katanya hanya bisa dibangun dengan kejujuran dan sportivitas.
katanya, uang memang perlu, tapi jangan sampai membuat hati kita buta.
makassar, 15.30 wita
sabtu 07 maret 2008
saat orang itu berlalu, saya tiba-tiba bertanya pada diri sendiri apakah sewaktu menyodorkan lembaran kertas tadi itu saya dalam kondisi iklhlas? entahlah. karena tidak ingin menggugurkan pahala, saya memilih meyakinkan diri kalau tadi itu saya ikhlas memberi. saya mencoba menyembunyikan keraguan yang muncul tentang orang itu. jujur, saya sempat bergumam di hati, mengapa orang itu rela menggadaikan harga dirinya dengan meminta-minta. bukankah masih ada pekerja lain yang lebih bermartabat. bukankah masih banyak orang cacat lainnya yang tetap kuat merawat harga dirinya dengan mencoba berkreasi tanpa perlu meminta-minta?
saya berharap, semoga orang itu segera terbuka hatinya. saya tahu, kondisi fisiknya yang terbatas bukanlah kehendaknya, melainkan kuasa sang pencipta. tapi tuhan juga memberi umatnya kelebihan lain yang bisa dimanfaatkan dalam menjalani hidup. sampai di titik ini saya merasa harus berucap syukur karena lahir tidak dalam keadaan buta. terlebih saya bersyukur kalau ternyata saya juga tidak tergolong manusia yang buta hati. semoga.
pagi ini juga saya membaca berita menarik di halaman depan koran. sejumlah pemuda membakar topeng seorang tokoh politik nasional. topeng yang dibakar itu bergambar seorang ketua partai besar. itu dilakukan karena pemuda itu kecewa caleg yang didukung dipecat partainya. tokoh asal sulsel itu dipecat karena diduga terlibat korupsi. petugas kpk menangkapnya dengan barang bukti uang senilai miliaran rupiah. pemuda tadi itu tidak hanya membakar, tapi juga mengancam memboikot partai yang memecat tokoh dukungannya itu pada pemilu.
saya tidak tahu apa yang membuat pemuda itu sebegitu rupa membela sang tokoh. kalau mereka kecewa, saya paham. tapi bukankah ada proses hukum yang akan membuktikan apakah sang tokoh bersalah atau tidak. kalau kecewa tokohnya dipecat, bukankah itu memang sudah hak partai. mengapa tidak mendukung dengan cara-cara elegan saja, misalnya meminta sang tokoh tegar dan berkomitmen tidak akan memilih caleg lain selain sang tokoh.
seorang kolega tokoh yang ditangkap itu saya minta komentarnya sesaat setelah sang tokoh tertangkap. dia juga seorang wakil rakyat yang bertugas di jakarta. awalnya ia menolak berkomentar karena persoalan tenggang rasa. namun, dia akhirnya mengatakan, saatnya rakyat memilih wakilnya sesuai pertimbangan nurani. bukan karena uang. demokrasi katanya hanya bisa dibangun dengan kejujuran dan sportivitas.
katanya, uang memang perlu, tapi jangan sampai membuat hati kita buta.
makassar, 15.30 wita
sabtu 07 maret 2008
Jumat, 20 Februari 2009
sahabat
makassar, 20 februari, 20.30
dua hari ini saya merasa mulai lega karena telah berjumpa dengan dua saudara perempuan saya. karena kesibukan masing-masing, kami jarang betemu dalam dua bulan ini. kak lily yang datang dari palopo, seperti biasa, kembali memberi wejangan-wejangan ke saya. itu biasa dilakukannya. tapi saya meganggapnya biasa saja, tanpa perlu terlalu peduli. wajah kakak saya itu selalu mengingatkan saya pada almarhum ibu. saya menyebutnya selembar kesabaran yang tak lekang oleh sebuah kemarau panjang sekalipun. saya amat menyayangi sekaligus menghormatinya. dia selalu memberi semangat saat saya merasa patah arang. kami sangat dekat dan akrab. kepadanya saya terbuka dalam hal apa saja.
saya juga berjumpa adik saya metik dua hari ini. selama ini kami jarang ketemu karena masing-masing sibuk. padahal kami masih sama-sama di makassar. saya perhatikan, adik saya itu sangat jarang mau menatap mata saya. mungkin saya dianggap terlalu posesif terhadapnya. baginya, mungkin saja saya ini kakak yang sangat tidak menyenangkan. mungkin saya dianggap teramat protektif, sampai jam pulang kuliahnya setiap hari pun saya harus tahu. tapi saya pernah bilang kepadanya: ini saya lakukan karena ingin tidak terjadi apa-apa padanya. saya tahu, itu kadang sulit diterimanya. melihat wajah adik bungsu saya itu juga selalu mengingatkan saya pada ibu. foto hitam putih ibu sewaktu muda kurang lebih seperti metik. cantik. ibu berpulang saat metik masih 11 tahun.
saya selama ini beranggapan bahwa kualitas cinta yang sebenarnya hanya bisa didapatkan dari kedua orang tua dan saudara kita masing-masing. namun anggapan itu rupanya salah. paling tidak sejak saya mengenal seorang sahabat saya. dia saya panggil kak bahar. dia berumur sekitar 40 tahun. kami bertemu suatu hari saat saya masih bertugas di bone. dia pribadi yang hangat, menyenangkan. satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah sikap dermanya. bukan hanya kepada saya, tapi hampir kepada seluruh geng wartawan "terkucil" di bone dulu. istilah terkucil ini saya pakai untuk menggambarkan perlakuan terhadap kami yang selalu berusaha tidak kompromi dengan uang sogokan dan kekuasaan yang korup di bone dulu. bukan sok idealis, seperti yang sering ditudingkan. ini semata sikap untuk menjadi manusia yang baik dan benar. mencoba punya prinsip dan merasa tak perlu melacurkan diri untuk sekadar bertahan dari kerasnya hidup.
kembali ke kak bahar, saya berkali-kali harus mengecewakannya saat menolak setiap pemberiannya. padahal saya tahu dia sangat tulus. saya merasa tidak enak hati saja selalu dibantu olehnya.
orang pertama tempat saya pamit sebelum ke makassar adalah kak bahar. lagi-lagi dia memberi saya sesuatu. tapi pemberian terakhir itu tidak lagisaya tolak. saya lebih memilih meyakinkan diri bahwa itu rezeki yang dikirimkan tuhan melalui tangan orang yang baik hati ini. dengan istri beliau pun kami sangat akrab. meskipun, kami juga sangat menghormatinya. saking hormatnya, sampai-sampai saya tidak tahu siapa nama beliau, padahal kami berinteraksi sekitar setahun. kak bahar mengaku akan kehilangan teman saat saya pamit ke makassar.
tiga hari lalu saya dikagetkan dengan undangan makan malam beliau. katanya, dia sedang berada di sebuah warung bersama istrinya, yang selalu kami panggil dengan sebutan ibu atau kak.
undangan makan malam tempo hari itu saya tolak dengan alasan sedang sibuk mengejar deadline. saya berusaha lupa kalau beliau berdua sedang di makassar dan sedang berusaha bertemu saya. berselang sejam setelah undangan makan malam, beliau menelepon saya lagi. katanya dia ada di lobi kantor saya. saat bersua itu, beliau menyodorkan kantung kresek hitam. "ini buat makan malam," katanya, sebelum berlalu karena dia tidak ingin mengganggu saya lebih lama.
saya memakan makanan itu sambil terus berpikir bahwa betapa beruntungnya saya dipertemukan dengan manusia dengan kualitas pribadi seperti kak bahar. saya membatin, kualitas orang ini telah melampaui surga. saya hanya berharap mampu mendekati kualitas pribadi yang dimilikinya.
saat menulis ini, saya membayangkan beliau berdua sedang menonton tv di rumahnya. mungkin sepi sedang menguasai ruang tengah ruang keluarga itu. saya tahu kak bahar dan ibu sampai kini masih terus berdoa agar dikaruniai seorang buah hati. sayang, tuhan belum juga berkenan meluluskan itu.
saya berjanji setiap waktu akan berdoa untuk kak bahar, saudara-saudara saya dan sahabat-sahabat yang baik hati. saya bahagia memiliki mereka. malam ini saya tiba-tiba merasa orang paling kaya.
dua hari ini saya merasa mulai lega karena telah berjumpa dengan dua saudara perempuan saya. karena kesibukan masing-masing, kami jarang betemu dalam dua bulan ini. kak lily yang datang dari palopo, seperti biasa, kembali memberi wejangan-wejangan ke saya. itu biasa dilakukannya. tapi saya meganggapnya biasa saja, tanpa perlu terlalu peduli. wajah kakak saya itu selalu mengingatkan saya pada almarhum ibu. saya menyebutnya selembar kesabaran yang tak lekang oleh sebuah kemarau panjang sekalipun. saya amat menyayangi sekaligus menghormatinya. dia selalu memberi semangat saat saya merasa patah arang. kami sangat dekat dan akrab. kepadanya saya terbuka dalam hal apa saja.
saya juga berjumpa adik saya metik dua hari ini. selama ini kami jarang ketemu karena masing-masing sibuk. padahal kami masih sama-sama di makassar. saya perhatikan, adik saya itu sangat jarang mau menatap mata saya. mungkin saya dianggap terlalu posesif terhadapnya. baginya, mungkin saja saya ini kakak yang sangat tidak menyenangkan. mungkin saya dianggap teramat protektif, sampai jam pulang kuliahnya setiap hari pun saya harus tahu. tapi saya pernah bilang kepadanya: ini saya lakukan karena ingin tidak terjadi apa-apa padanya. saya tahu, itu kadang sulit diterimanya. melihat wajah adik bungsu saya itu juga selalu mengingatkan saya pada ibu. foto hitam putih ibu sewaktu muda kurang lebih seperti metik. cantik. ibu berpulang saat metik masih 11 tahun.
saya selama ini beranggapan bahwa kualitas cinta yang sebenarnya hanya bisa didapatkan dari kedua orang tua dan saudara kita masing-masing. namun anggapan itu rupanya salah. paling tidak sejak saya mengenal seorang sahabat saya. dia saya panggil kak bahar. dia berumur sekitar 40 tahun. kami bertemu suatu hari saat saya masih bertugas di bone. dia pribadi yang hangat, menyenangkan. satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah sikap dermanya. bukan hanya kepada saya, tapi hampir kepada seluruh geng wartawan "terkucil" di bone dulu. istilah terkucil ini saya pakai untuk menggambarkan perlakuan terhadap kami yang selalu berusaha tidak kompromi dengan uang sogokan dan kekuasaan yang korup di bone dulu. bukan sok idealis, seperti yang sering ditudingkan. ini semata sikap untuk menjadi manusia yang baik dan benar. mencoba punya prinsip dan merasa tak perlu melacurkan diri untuk sekadar bertahan dari kerasnya hidup.
kembali ke kak bahar, saya berkali-kali harus mengecewakannya saat menolak setiap pemberiannya. padahal saya tahu dia sangat tulus. saya merasa tidak enak hati saja selalu dibantu olehnya.
orang pertama tempat saya pamit sebelum ke makassar adalah kak bahar. lagi-lagi dia memberi saya sesuatu. tapi pemberian terakhir itu tidak lagisaya tolak. saya lebih memilih meyakinkan diri bahwa itu rezeki yang dikirimkan tuhan melalui tangan orang yang baik hati ini. dengan istri beliau pun kami sangat akrab. meskipun, kami juga sangat menghormatinya. saking hormatnya, sampai-sampai saya tidak tahu siapa nama beliau, padahal kami berinteraksi sekitar setahun. kak bahar mengaku akan kehilangan teman saat saya pamit ke makassar.
tiga hari lalu saya dikagetkan dengan undangan makan malam beliau. katanya, dia sedang berada di sebuah warung bersama istrinya, yang selalu kami panggil dengan sebutan ibu atau kak.
undangan makan malam tempo hari itu saya tolak dengan alasan sedang sibuk mengejar deadline. saya berusaha lupa kalau beliau berdua sedang di makassar dan sedang berusaha bertemu saya. berselang sejam setelah undangan makan malam, beliau menelepon saya lagi. katanya dia ada di lobi kantor saya. saat bersua itu, beliau menyodorkan kantung kresek hitam. "ini buat makan malam," katanya, sebelum berlalu karena dia tidak ingin mengganggu saya lebih lama.
saya memakan makanan itu sambil terus berpikir bahwa betapa beruntungnya saya dipertemukan dengan manusia dengan kualitas pribadi seperti kak bahar. saya membatin, kualitas orang ini telah melampaui surga. saya hanya berharap mampu mendekati kualitas pribadi yang dimilikinya.
saat menulis ini, saya membayangkan beliau berdua sedang menonton tv di rumahnya. mungkin sepi sedang menguasai ruang tengah ruang keluarga itu. saya tahu kak bahar dan ibu sampai kini masih terus berdoa agar dikaruniai seorang buah hati. sayang, tuhan belum juga berkenan meluluskan itu.
saya berjanji setiap waktu akan berdoa untuk kak bahar, saudara-saudara saya dan sahabat-sahabat yang baik hati. saya bahagia memiliki mereka. malam ini saya tiba-tiba merasa orang paling kaya.
Sabtu, 07 Februari 2009
godot

seperti menunggu godot. penantian yang tak pernah pasti dan berujung sia-sia...
sastrawan samuel becket dalam naskah teater waiting for godot mengisahkan dua orang tokoh, vladimir dan estragon, yang menanti kedatangan seorang tokoh bernama godot. namun, hingga cerita selesai, tokoh godot yang dinantikan vladimir dan estragon itu tidak pernah muncul. godot akhirnya hanya menjadi sebuah nama tanpa wujud. sebuah simbol bagi penantian panjang. bahkan, penantian yang sia-sia.
beberapa hari terakhir ini saya melihat wajah kawan-kawan wartawan di sindo makassar tak ubahnya tokoh vladimir dan estragon dalam cerita klasik itu. namun, wujud godot yang ditunggu kawan-kawan di sindo makassar berupa lembaran kontrak kerja pengangkatan menjadi karyawan resmi perusahaan. awalnya, penantian kawan-kawan itu hanyalah penantian biasa saja. tak ada harapan besar di situ. namun, seiring perjalanan waktu, penantian kawan-kawan itu berubah menjadi sesuatu yang menjemukan, bahkan menjengkelkan.
di awal-awal menjadi bagian komunitas ini, telinga saya pernah mendengar bahwa akan ada pengangkatan menjadi karyawan tetap perusahaan setelah kami bekerja enam bulan. itu kejadiannya sekitar Agustus 2007. sebagian kawan-kawan saat itu kemudian berhitung maju. mereka lalu yakin akan menjadi karyawan perusahaan, bukan pegawai kontrak lagi, pada januari 2008. asa itu terus tumbuh subur karena dipupuk dengan taburan janji dari manajemen. namun, kenyataan rupanya jauh panggang dari api. pengangkatan itu ditunda. kawan-kawan pun saat itu cenderung belum mempersoalkan. manajemen kemudian menjanjikan lagi akan menjadikan kami organik pada tengah 2008. saat janji itu jatuh tempo lagi, kembali itu tidak dipenuhi. tawaran manajemen mulur lagi menjadi januari 2009.
saya salut dengan semangat kawan-kawan di sini. kendati janji-janji tidak juga mewujud, mereka berusaha tetap profesional dengan bekerja setiap hari. tapi saya tidak tahu, apakah mereka masih bekerja dengan hati atau sekadar menggugurkan kewajiban dengan datang menyetor berita. sebagian teman mengaku tidak masalah belum menjadi karyawan tetap. yang mereka sesalkan adalah janji-janji yang tidak ditepati. sebagian mengaku semangat dan motivasi menurun karena merasa dipermainkan. kondisi yang harus dimaklumi, karena orang pasti berbeda-beda dalam memperlakukan janji. saya ingat pesan seorang bijak. katanya jangan terlalu terbang tinggi oleh sebuah janji, biar jatuhnya nanti tidak terlalu sakit. bersyukur saya termasuk yang memegang pesan itu. saya tidak pernah berharap terlalu banyak. konon itu cara yang baik untuk tidak kecewa berat.
sekarang sudah februari. januari yang dijanjikan sudah lewat sebulan. namun, saat januari tiba sebulan lalu, ada yang berbeda dari kejadian-kejadian sebelumnya. ini tidak biasanya dilakukan pihak manajemen. saya tidak dengar lagi ada janji pengangkatan. yang ada kini justru kabar buruk, yakni kemungkinan ada kawan yang tidak diangkat, bahkan ada yang harus dieliminasi. tapi semua masih kabar kabur. meski saya tahu tidak bakal ada asap jika tak ada api. saya hanya berharap kabar buruk itu tidak menjadi nyata. saya bahkan tidak mau memikirkan itu dua kali.
saya tahu, kawan-kawan di sindo makassar, termasuk juga saya, tetap menanti janji pengangkatan yang sekian kali diucapkan dan diingkari itu. saya lihat kawan-kawan juga sudah sangat jarang bertanya tentang status karyawan itu. entah apa yang ada di pikiran masing-masing kini. mungkin ada yang sudah lelah bertanya, atau pasrah, atau marah. kalau toh marah, mereka sejauh ini hanya bisa marah dalam hati.
saat menulis ini saya terus diliputi rasa prihatin. prihatin karena menjumpai nasib kami layaknya vladimir dan estragon yang terus menunggu godot. setia menunggu sesuatu yang tidak pernah ada.
foto: internet
Rabu, 04 Februari 2009
risiko

betapa murahnya nyawa manusia di negeri ini. saya tertegun lama saat menyaksikan tayangan televisi sepanjang sore kemarin yang menayangkan adegan aksi demonstrasi di medan yang berakhir tragedi. nyawa ketua dprd sumatera utara, abdul azis angkat, terenggut paksa setelah ia diserang massa yang beringas. saya tiba-tiba merasa sangat ngeri dengan kondisi keamanan di sekitar saya. hemat saya, seorang pejabat negara saja dapat diserang oleh massa beringas tanpa ada perlindungan yang berarti. jika pejabat saja begitu mudahnya disentuh dan dianiaya, bagaimana dengan rakyat biasa? saya sebagai rakyat biasa tiba-tiba merasa sudah tidak ada lagi ruang yang aman untuk berlindung di negeri ini.
bagaimanapun, setiap warga negara punya hak hidup yang dilindungi oleh negara. maka, kewajiban negara untuk menjaga agar hak hidup yang merupakan hak asasi setiap orang itu tetap terjamin. tapi yang terjadi, hak hidup itu ternyata amat rentan untuk terenggut. tak terkecuali di tempat yang paling kita anggap aman sekalipun. dalam kondisi tertentu, setiap kita ternyata dituntut untuk melindungi diri sendiri. dalam kondisi itu, negara itu tidak ada. dalam kondisi itu, negara berubah menjadi hanya teks di atas kertas. itu yang terjadi ketika ketua dprd sumut dengan leluasa dianiaya oleh massa. polisi sebagai alat keamanan negara nyaris tidak terlihat di situ. negara dalam kondisi itu tidak bisa dimintai apa-apa. sekadar sepetak ruang kecil buat berlindung sejenak sekalipun. saya tahu, azis angkat saat itu pasti telah berusaha keras melindungi diri dengan caranya sindiri. sayang dia tidak berdaya.
saya tiba-tiba merasa sangat terancam beberapa hari ke depan ini. bekerja sebagai wartawan menuntut saya untuk selalu mampu menemukan "masalah" orang lain. dan dalam sejarah manusia, tak satupun orang yang senang apabila masalah yang dibuatnya dikuak ke muka umum. hampir semua orang selalu ingin masalah yang dibuatnya dibungkus rapat. kalau perlu dengan cara apapun. maka, hal yang wajar ketika orang yang masalahnya diungkap menjadi berang dan bisa melakukan apa saja agar kemapanannya tetap terjaga. di sinilah saya sering merasa terancam. saya sering berpikir mundur, merasa sebagai orang nekad telah memilih pekerjaan ini. sebuah pekerjaan yang selalu bersinggungan dengan risiko. saya tahu ancaman itu bisa datang kapan saja. dan siap merenggut apa saja. dan saat itu tidak sesuatu pun kekuatan, kecuali tuhan, yang bisa melindungi saya. kekuatan negara hanya mungkin ada saat kami sudah menjadi korban. negara hanya tinggal menggunakan hukum positif yang dibuatnya untuk mengganjar orang-orang yang merenggut hak aman dan hak hidup kami itu.
sekitar 15 tahun silam saya sampaikan niat saya ke ibu untuk menjadi wartawan. saat itu ibu menertawai saya. saya tidak tahu apa arti tawa ibu saat itu. tapi saya tidak pernah menyalahkan ibu yang menertawai cita-cita saya. karena, sampai hari ini pun saya belum bisa memberikan apapun sebagai kebanggaan dari pekerjaan ini kepada ibu, kalau pun beliau seandainya beliau masih hidup. saya tahu, untuk seorang ibu yang tumbuh di lingkungan tradisional, akan sangat sulit menerima anaknya bercita-cita wartawan. mungkin ibu akan tersenyum kalau cita-cita saya saat itu pengusaha atau pns.
tapi seandainya saja beliau masih hidup, saya akan yakinkan beliau bahwa pekerjaan ini sudah menjadi jalan hidup saya. jalan yang saya yakini lurus dan akan membukakan banyak pintu-pintu surga.
Selasa, 27 Januari 2009
bijak
hari ini saya masuk kantor dalam keadan tidak fit. flu berat menyerang saya sejak kemarin. kemarin, saya bahkan tidak bisa bangkit dari tempat tidur dan akhirnya minta izin untuk tidak masuk kantor. tapi alhamdulillah, hari ini kesehatan saya mulai membaik kendati belum pulih benar. tanggung jawab memaksa saya harus berada berada di depan komputer lagi sekarang.
saat suhu badan saya sedang tinggi-tingginya kemarin, beragam bayangan berkelebat di pikiran. saya tidak tahu apakah semua itu mimpi atau halusinasi. atau pengalaman alam bawah sadar yang muncul akibat pikiran dan perasaan yang sedang tidak stabil? saya tidak tahu. yang pasti, dalam keadaan terserang panas tinggi itu, saya menemukan diri saya sedang berada di tengah lautan. lautan tidak bertepi yang membuat saya teramat takut. sekali waktu saya bertemu dengan almarhum tante saya. beliau kami panggil dengan sebutan iyya. hanya, saya tidak ingat persis peristiwa saya dengan beliau malam itu. saya hanya berkesimpulan bahwa beliau memang amat jarang saya doakan. saya telah banyak lupa kepada orang-orang yang telah banyak berjasa dalam hidup saya.
sakit sehari kemarin menyadarkan saya betapa kesehatan itu sangat penting. celakanya, kesadaran menjaga kesehatan itu hanya ada tatkala sakit mendera. tapi setelah itu, semua seolah dilupakan. saya akan kembali ke kebiasan lama; sering terlambat makan karena diburu deadline, kerap pulang tengah malam, menenggak kopi bergelas-gelas setiap hari, dan malas mengonsumsi vitamin. beruntung saya tidak merokok. tapi di ruang kerja saya, asap beracun itu tetap saya hirup. itu kiriman orang-orang di sekitar saya. saya tidak habis pikir, mengapa orang tidak bisa sedikit menghargai orang yang tidak merokok, katakanlah mereka sedikit bijak merokok di luar ruangan saja. tapi sudahlah. saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dan hanya mencoba maklum, bukankah untuk menjadi bijak memang butuh kebesaran jiwa. dan itu tidak dimiliki banyak orang di negeri ini.
maka dari itu, ketika ulama negeri ini memfatwakan haram merokok, saya hanya bisa tersenyum kecut. hemat saya, jangankan fatwa ulama, fiman tuhan dan hadis nabi saja bagi sebagian orang amat gampang melanggarnya. saya bukan menyepelekan fatwa itu. hanya, saya merasa agak aneh ketika hal-hal seperti itu harus menjadi urusan ulama. lagi pula, kalau rokok memang haram, mengapa baru sekarang? itu pertanyaan besarnya. saya malah khawatir fatwa ulama itu hanya akan diperlakukan tak lebih perlakuan terhadap peringatan pemerintah di kemasan rokok tentang bahaya mengisap rokok. seorang teman sering mempelesetkan kalimat peringatan itu. dengan nakalnya kalimat itu diubah. katanya: peringatan! pemerintah merokok, dapat merugikan kesehatan.
foto: vidayyub ahmad/sindo sulsel
Sabtu, 24 Januari 2009
masjid

saya sangat jarang mampu menyimak materi khutbah yang dibawakan khatib saat salat jumat. biasanya, pikiran saya melantur ke mana-mana saat khatib beridiri di mimbar. apalagi, kalau materi khutbah melulu berbicara soal surga-neraka. hemat saya, mengajak seseorang orang untuk meningkatkan keimanan bukan harus selalu dengan metode ancam-mengancam, melainkan bisa dengan hal-hal sederhana saja. mungkin saja dengan cara-cara sederhana itu orang bisa lebih terketuk hatinya mengenal agamanya dan mencintai tuhannya.
saya merasa beruntung bisa turut mendengar khutbah yang dibawakan seorang dai di sebuah masjid sederhana di bilangan urip sumoharjo, makassar. khatib itu, saya yakin selain sangat paham tentang agama, dia juga seorang cendekia. berbeda dengan materi sebagian khatib di masjid-masjid beberapa kesempatan jumat belakangan ini--yang umumnya berbicara soal serangan israel ke palestina, khatib yang ini memilih berbicara tentang hal sederhana saja, yakni perilaku umat muslim yang semakin berubah dari hari ke hari. tapi sebelumnya, saya perlu menegaskan bahwa saya bukannya tidak simpati kepada saudara kita di palestina yang menderita, namun saya merasa kita perlu melakukan sesuatu yang lain dari pada hanya sebatas marah dan mengutuk, yang ternyata tidak membuat perubahan yang berarti bagi kehidupan rakyat palestina.
khatib itu berbicara tentang perilaku umat muslim kontemporer yang disebutnya mulai menyimpang dari ajaran islam. itu antara lain dilihat dari tata cara peringatan maulid nabi yang di banyak tempat diperingati dengan pesta, hingga kebiasaan berziarah kubur kaum muslim. menurutnya, esensi berziarah ke kuburan tidak lebih sebagai bentuk penghargaan bagi orang yang telah mati dengan cara berdoa untuknya. celakanya, banyak orang yang kini memperlakukan kuburan seolah itu tuhan yang harus ia sembah.
khatib itu juga mengkritik perilaku umat muslim yang tidak lagi menjadikan masjid sebagai pusat peradaban. manusia kontemporer disebutnya kini lebih memilih pergi ke mal ketimbang masjid. generasi mendatang diakuinya akan sangat terasing dengan masjid karena sedari bayi, anak-anak sudah diperkenalkan dengan mal dan budaya konsumtifnya.
saya yakin, sebagian besar, atau mungkin semua orang yang mendengar ceramah itu, termasuk saya, akan memeriksa dirinya. sebarapa seringkah mereka ke masjid untuk berjamaah ketimbang refresing ke mal?
khatib itu menyebut perubahan perilaku umat itu sebagai evolusi. sebuah proses perubahan yang kian menjauhkan orang dari nilai-nilai agamanya. saya teringat cendekiawan muslim komaruddin hidayat yang melihat kelemahan umat muslim yang tidak mampu mentransfer kebajikan dan nilai-nilai luhur peradaban yang ada di masjid. menurut komaruddin, di masjidlah sesungguhnya peradaban mulia terletak. di masjid, semua orang mengangungkan kebersihan dan keindahan. siapapun yang ke masjid, perlu lebih dulu menyucikan dirinya dengan wudhu. di masjid pula orang bisa lebih tenang dan berlaku tertib. tidak ada perilaku saling mendahului. dalam salat, makmun tidak akan pernah mau mendahului imam. tapi sayang nilai-nilai peradaban itu hanya berlaku di dalam masjid, dan tidak diaplikasikan dalam kehidupan di luar masjid.
tak dipungkiri budaya mal memang hampir sudah menguasai perilaku manusia perkotaan. orang ke mal, tidak lagi semata karena kebutuhan membeli sesuatu, melainkan sekadar gaya hidup. bagi kaum urban, gaya hidup adalah eksistensi kemanusiaan itu sendiri. jika descartes memiliki tesis "saya berpikir maka saya ada", kira-kira kaum urban berprinsip, "saya ke mal maka saya ada". budaya mal sudah demikian kuat mencengkeram dan mengusai kehidupan. dan kaum urban larut dan menikmatinya seolah tidak terjadi sesuatu yang salah. barangkali, ini yang disebut antonio gramsci dengan hegemoni. manusia tunduk dalam sebuah kuasa kebudayaan, dan mereka merasa nyaman atas penguasaan itu. sebuah hegemoni budaya.
khatib di masjid di urip sumoharjo siang itu tidak mengatakan bahwa pola hidup dan kebudayaan masyarakat perkotaan itu salah atau menyimpang. dia hanya mengingatkan siapapun untuk lebih berhati-hati akan apa yang telah diperbuatnya. juga mengingatkan berhati-hati dengan evolusi yang kian mengikis nilai-nilai syariat, bahkan akidah kaum muslimin hari ini. menurutnya, sebuah hal yang niscaya ketika evolusi yang terus bergerak dan bergerak itu, akan kian membenamkan kaum muslimin dalam budaya kapitalistik, kebudayaan yang mengasingkan kaum muslim dari nilai-nilai ajaran agamanya.
khatib siang itu berceramah sekitar 30 menit, tapi saya merasa ingin dia lebih lama. saat meninggalkan masjid seusai salat, saya tiba-tiba merasa perlu bertanya pada diri sendiri. apakah saya ini baru akan menginjak masjid lagi pada jumat depan? apakah di luar sana saya termasuk di antara orang-orang yang tidak mampu mengaplikasikan nilai peradaban yang ada di masjid? saya tidak tahu. saya hanya merasa ada sesuatu yang perlu diubah. segera harus diubah.
Rabu, 21 Januari 2009
naluri

teman di kantor sering bertanya, dengan siapa saya berpose di foto seukuran telapak tangan yang tertempel di dinding dekat komputer kerja saya. sambil bergurau saya menjawab kalau itu anak saya yang bungsu. saya tahu teman-teman tidak bakal percaya itu. selain mereka tahu saya masih sendiri, foto anak usia lima tahun yang saya peluk itu juga katanya lebih gagah. "ndak mungkinlah, ndak mirip banget," begitu teman-teman sering menyela.
mengapa foto itu saya tempel di dekat komputer kerja? saya juga tidak mengerti betul jawaban pastinya. saya hanya merasa perlu memasangnya di situ agar bisa sesering mungkin melihat foto itu setiap hari. anak kecil di foto itu keponakan saya, eky. lengkapnya resky afriawan. menurut ibunya, nama afriawan itu mengacu pada bulan kelahirannya, april. suatu waktu saya sempat protes kecil, mengapa dia tidak diberi nama muhammad, umar atau ali. nama-nama yang menurut saya selalu memiliki kekuatan doa.
saya selalu merindukan eky seperti saya merindukan nanda dan aqsal, dua keponakan saya yang lain. ketiga bocah itu merupakan anak dari kakak tertua saya di balikpapan. setahun lalu saya berjanji kepada eky mengunjunginya saat saya mengambil cuti tahunan. sayang, cuti itu tidak pernah kunjung datang. manajemen kantor saya hanya membolehkan orang meminta cuti, tapi belum mau mengabulkan. saya hanya berharap tahun depan sudah bisa mengunjungi anak-anak yang selalu membuat saya semangat dan mensyukuri hidup itu.
beberapa hari lalu, saya bertemu dengan anak seorang pedagang kaki lima. saya bertemu anak itu di lapak pinggir jalan di bilangan ap pettarani makassar, tempat ibunya berdagang barang kelontongan. anak itu sempat menyebutkan namanya, tapi saya sudah lupa. saat membeli minuman di lapak itu, saya tidak sengaja menemukan kaki anak itu terluka. luka itu belum kering, terkelupas dan tampak berwarna kemerahan. ibu anak itu bilang kalau anaknya ditabrak lari oleh seorang pemilik mobil. dia yakin mobil itu bukan angkutan umum melainkan mobil pribadi. anak itu tidak sempat dibawa ke dokter karena ibunya kekurangan biaya. anak perempuan itu belum bisa berjalan sempurna, masih tertatih-tatih menahan sakit di pergelangan kakinya. "kami tidak bisa menuntut apa-apa karena orang itu langsung kabur seusai menabrak," ujar ibu si anak itu lirih.
saya tercenung melihat penderitan anak yang masih berusia sekitar 8 tahun itu. saya berpikir, sungguh biadab pelaku tabrak lari itu. perilakunya masih sangat primitif; sifat yang juga dimiliki oleh banyak orang-orang besar di republik ini. orang-orang yang hanya bisa berbuat tapi tidak berani mempertanggungjawabkan apa yang diperbuatnya. saya berpikir, apa salahnya orang itu berhenti sejenak, barangkali sekadar melihat kondisi anak yang ditabrak itu. atau, sudah demikian sulitkah menjadi manusia dengan m besar di zaman ini, di tengah persaingan dan pertarungan hidup yang demikian keras? entahlah. yang pasti, saat ini saya semakin mudah menemukan orang-orang bersatus sosial namun memiliki jiwa nan kerdil.
ketika mengingat luka dan sakit yang diderita anak pedagang kaki lima itu, saya tiba-tiba ingat eky. saya tiba-tiba merasa ingin memeluknya, melindunginya, menghindarkannya dari segala bentuk kekerasan di lingkungan sekitar dia hidup. menghindarkannya dari kekerasan yang sudah terlanjur menjadi biasa di dunia yang sebagian penghuninya telah kehilangan nurani dan akal sehat, juga solidaritas dan kepekaan. salam, semoga damai selalu di bumi.
(foto: maman sukirman/sindo sulsel)
Senin, 19 Januari 2009
bro

hari ini sungguh saya kembali dibuat takjub oleh sebuah dimensi bernama waktu. selama ini terkadang saya merasa waktu seolah bergulir sangat lamban, terkadang pula sebaliknya-berlalu begitu cepat tanpa terasa. sungguh saya terpana saat menyadari kalau besok ternyata sudah sebulan saya berkutat di kota ini. sudah sebulan menjadi seorang wartawan di kota metropolitan ini. ya, menjadi wartawan-sebuah pekerjaan yang hingga kini belum saya mengerti mengapa ia begitu kuat menarik saya, hingga masuk dan terbenam di dalamnya.
kembali ke soal waktu, entah apa yang membuat waktu di makassar ini seolah berlalu tanpa terasa. saya menduga hanya dua kemungkinan; tekanan pekerjaan yang membuat saya kehabisan waktu berpikir tentang waktu itu sendiri; atau justru sedang nyaman menikmati suasana di tempat 'baru' ini. atau, mungkin waktu tak terasa karena sekarang sedang musim hujan, sehingga waktu saya habis 'memaki' hujan yang tak pernah mau kompromi di saat saya sedang memburu target liputan. cerita bisa saja lain kalau kemarau tiba nanti.
ketika pertama kali mendapat kabar dipindahkan bekerja ke kota ini, saya langsung diperangkap perasaan bimbang dan was-was. jujur, kota ini sungguh tidak saya sukai. makassar bagi saya begitu membosankan. macet di mana-mana. kekerasan ada di setiap sudut, minimal itu yang ditampilkan televisi hampir di tiap jamnya. setiap kali ada kesempatan berkunjung ke kota ini, saya merasa tidak betah dan ingin segera pergi lagi. entah apa yang membuat itu semua. padahal, lima tahun saya menghabiskan waktu di kota ini semasa kuliah dulu. dan saat itu semua baik-baik saja.
akhirnya saya memutuskan berangkat ke kota ini sambil berusaha tanpa dibebani perasaan dan pikiran apa-apa. saya berpisah dengan dua saudara saya, yang selama dua tahun ini kami terus bersama-sama, tanpa ada hal yang didramatisasi. saya ke makassar, seolah sedang pergi ke suatu tempat pada pagi hari dan akan kembali lagi sorenya. itu saya lakukan karena tidak ingin kakak saya, epping dan adik saya askin merasa kehilangan sesuatu akibat kepergian saya. lebih-lebih saya tidak ingin merasa kehilangan mereka. apalagi, kami berpisah untuk waktu setahun, dua tahun, atau mungkin sepuluh tahun ke depan. semuanya akhirnya berjalan seperti yang saya inginkan. semua berlalu baik-baik saja, hingga hari ini, hari ke tiga puluh. sudah sebulan saya di kota yang ternyata tidak semuram dengan apa yang saya bayangkan. tidak seburuk kabar di televisi yang membuat orang-orang luar merasa bergidik saat mendengar kota ini disebut.
dulu ibu saya punya cita-cita besar. beliau berangan-angan memiliki sebuah rumah. sebuah rumah yang mungkin ukurannya cukup besar, tapi saya yakin itu tidak mewah. di pikiran ibu, rumah itu memanjang dan berpetak-petak. "saya ingin kalian semua tinggal di setiap petak rumah itu. saya ingin kalian tidak ada yang berpisah dan rukun sampai kapanpun," ujar ibu berkali-kali dalam waktu berbeda.
mendengar itu, kami bersaudara tak ada yang menanggapi. pikiran kecil kami saat itu, bagaimana mungkin itu terjadi. ibu masih menyimpan cita-cita besarnya itu sampai beliau menghadap sang pemilik waktu. saat beliau pergi, yang disusul bapak, saya baru menyadari mengapa ibu memendam hasrat seperti itu. beliau rupanya telah menancapkan rasa memiliki yang luar biasa dalamnya di antara kami anak-anaknya. hasil luar biasa dari itu semua adalah tumbuhnya rasa persaudaraan yang dalam pada kami. makanya, sekarang saya tidak heran ketika adik bungsu saya, me, menghafal semua tanggal kelahiran kami, begitupun hampir semua kami menyimpan foto masing-masing di dalam dompet, hingga hari ini. setiap kali melihat foto-foto itu, saya ingat ibu, juga rumah berpetak tujuh yang dicita-citakannya.
saya tidak mengatakan apapun, tidak juga pesan, kepada kedua saudara saya saat berangkat ke kota ini. tapi epping dan askin pasti memahami pilihan saya, meski awalnya saya yakin mereka amat berat. saat menjabat tangan mereka, batin saya berbisik, "kita semua harus menjemput masa depan kita bro. untuk kehidupan esok yang lebih baik..." epping dan askin tidak berkata apa-apa saat itu. tapi saya tahu mereka mendengar suara batin saya itu. lewat mata keduanya, saya menangkap doa. doa yang tiada henti mereka rapalkan, hingga ujung waktu.
(foto: vidayyub ahmad/sindo sulsel)
Sabtu, 17 Januari 2009
rudi
hari ini saya tetap masuk kantor kendati sebetulnya saya libur. seharian tadi, di sela-sela hujan yang tak henti-hentinya mengguyur makassar, saya berkeliling mencari rumah kos bersama sobat ary. ary kebetulan juga libur. hingga sore, tempat kos yang pas dan murah tidak juga ketemu. akhirnya saya memilih ke kantor saja, sekalian membaca berita-berita di koran hari ini.
sepekan ini halaman koran dipenuhi berita kecelakaan kapal teratai prima yang menewaskan hampi 300 penumpang. baru membaca dua paragraf berita hari ini tentang dua mayat yang kembali ditemukan, bunyi dering telepon rekan syahlan dari parepare mengusik. dia mengabarkan kalau pencarian korban teratai dihentikan.
saya mungkin tidak punya keluarga atau kenalan yang menjadi korban di kapal itu. tapi saya bisa merasakan kepiluan yang dirasakan oleh mereka yang tidak lagi bisa menemukan keluarga mereka hidup atau mati. saya tiba-tiba teringat enam saudara saya yang kini jauh. saya hanya mampu berdoa agar tuhan selalu menaungi kami dengan cinta dan keselamatan.
tragedi teratai ini menyesakkan, hanya 36 penumpang yang berhasil selamat, termasuk seluruh abk dan nakhoda kapal 17 orang. hanya delapan mayat ditemukan. selebihnya, lebih 200 orang mungkin terperangkap di lambung kapal atau mungkin sedang terapung di lautan tanpa ada yang berhasil menemukan. saya tiba-tiba ingat wajah-wajah keluarga korban yang menunggu sambil berharap di pelabuhan itu. mungkin hari ini mereka itu tidak lagi mampu menangis. tiga hari pertama pasca kecelakaan, keluarga korban masih berharap menemukan keluarga mereka dalam keadaan hidup. namun harapan itu semakin hari semakin menipis, sampai tersiar kabar kalau pencarian dihentikan di hari ke tujuh.
entah siapa yang harus disalahkan atau dikutuk atas tragedi ini. ini kecelakan laut yang kesekian kalinya. di setiap kecelekaan pejabat pemerintah umumnya hanya bisa mengucapkan kalimat turut berduka cita, sambil sesekali saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab. sikap mereka yang paling membosankan adalah ajakan mengambil hikmah di setiap musibah yang terjadi. entah berapa lagi hikmah yang harus dikumpulkan.
seorang penumpang yang selamat dari maut bernama rudi alfian. dia masih remaja usia SMA. dia kehilangan ibu, bapak, dan dua adiknya yang ikut menjadi korban di kapal itu. saya hanya bisa membayangkan, sungguh getir hari-hari yang dihadapi rudi kini. dia tidak lagi bisa mencandai dua adiknya yang masih duduk duduk di SD, rubi dan santi. dia tidak lagi mampu berkeluh kesah kepada ibunya dan bapaknya. kegetiran yang sama juga dialami seorang korban bernama nandar. dia kehilangan sekitar 20 anggota keluarganya yang ikut karam bersama kapal.
hanya keluarga korban itu yang bisa merasakan betapa dalamnya duka kehilangan orang-orang yang dicintai. sedangkan kebanyakan kita? seperti puntung rokok yang setiap hari kita empaskan ke tanah, peristiwa ini pun pasti segera berlalu dan terlupakan. kita kembali akan tertawa-tawa melihat lawakan murahan di televisi; terharu biru oleh sinetron-sinetron konyol; dan terhibur oleh sajian-sajian konyol infotaiment. sedangkan, di pelabuhan, kapal-kapal penumpang kembali akan disesaki manusia hingga melewati batas kapasitas. kapal-kapal kembali berlayar dengan peralatan keselamatan apa adanya. dan sekali lagi, setiap tragedi akan jadi tontonan kita semua. setiap tragedi, alam kembali akan disalahkan.
(foto: maman sukirman/sindo sulsel)
Jumat, 09 Januari 2009
unforgetable

saya menulis teks ini seraya terus tersenyum sendiri. saya yakin pasti akan sangat sulit melupakan peristiwa malam ini. untuk membuat halaman sederhana ini, saya 'membajak' mas syahlan yang baik hati. saat saya meminta dia buatkan blog, dia sempat heran. roman muka heran itu terbaca jelas di wajahnya. sambil dahinya mengernyit, dia bilang, "hari gini baru bikin blog?". tapi saya tidak hirau padanya. akhirnya saya sukses memaksanya begadang. dia baru saya izinkan tidur pada pukul empat pagi. dan penyiksaan saya padanya belum berhenti disitu. pukul enam pagi dia kembali saya paksa bangun. dia saya minta membikin tampilan yang sesuai dengan yang saya mau. sedikit memelas, saya bilang, "maaf mas, saya ini banyak maunya tapi ndak tahu apa-apa," kataku pura-pura menghibur. mengejutkan, dia menimpali dengan kalimat bijak bak seorang raja, "saya juga begitu dulu mas. tidak tahu apa-apa. tapi untuk menjadi bagus, memang ndak boleh cepat puas. harus sering bertanya dan banyak belajar". dalam hati, baik juga ini orang. terang-terang hidupnya sudah saya buat susah sepanjang malam, masih bisa-bisanya dia memberi petuah.
dulu, sekitar empat tahun lalu, usaha membikin halaman seperti ini sudah pernah saya coba. waktu itu, teman sekantor saya sudah siap membantu membuatkan. saat itu saya merasa perlu tempat untuk menghibur diri di sela-sela jadwal liputan yang padat. tapi entah alasan apa blog itu tidak pernah terwujud, sampai akhirnya saya berhenti bekerja di kantor itu. saya kadang merasa harus mencatat hal-hal unik di sekitar saya, kejadian yang kadang membuat saya tercenung, jengkel, marah, sedih, bahagia, semringah, dan perasaan-perasaan lainnya yang datang silih berganti saat berada di luar sana. saya merasa harus mencatat dan mencatat, barangkali sekadar mengasah agar kepekaan nurani tidak semakin tumpul oleh dunia yang sepertinya semakin hari semakin tidak toleran terhadap perbedaan. saat itu saya merasa harus mencatat, dengan harapan mungkin ada orang lain yang bisa beri sesuatu dan saya jadikan dia tempat berbagi apa saja.
malam ini keinginan sederhana itu dipuaskan mas syahlan. melalui ini pula saya tidak lupa berterima kasih kepada sobat ayyub yang merelakan fotonya dipajang di sini. saya sangat suka foto itu. sekumpulan bocah yang berlompatan saat mandi di laut losari di kala senja. saya terkenang masa kecil saya di desa dulu. itu sekitar 20 tahun lalu. bersama sahabat-sahabat masa kecil yang sekarang berpencar entah ke mana, kami menikmati arus dan kecipak air sungai yang mengalir membelah desa kami setiap hari saat pulang sekolah. air sungai itu terkadang asin karena jarak laut yang sangat dekat. saya masih ingat jelas ketika pertama kali belajar berenang yang memaksaku harus berkali-kali meneguk
air asin yang membuat dada sesak. tapi memang benar, di dunia tidak ada yang percuma. pengalaman masa kecil di sungai itulah yang membuatku sekarang bisa berenang. berenang di sungai itu salah satu babakan terindah dalam masa kanak-kanak saya. saya teringat ketika harus mengeringkan badan di bawah matahari setelah mandi, agar ibu saya tidak sampai tahu kalau saya habis mandi di sungai. tapi rupanya kedua bola mata saya yang memerahdan kulit saya yang membiru terpanggang matahari, tidak mampu membohongi ibu. setelah itu, ibu selalu menghukum saya dengan caranya yang unik: tidak menegur saya hingga esok pagi. dasar bandel, perbuatan yang tidak menyenangkan ibu itu terus saya ulang, tanpa pernah berpikir betapa khawatirnya beliau ketika saya mandi di sungai yang dalam tanpa bisa berenang. sampai suatu ketika, saya mengabarkan kabar gembira bahwa hari itu saya sudah bisa berenang ke seberang sungai. ibu hanya menggeleng-geleng. entah apa di benak ibu. setiap ibu menceramahi saya tentang bahaya mandi di sungai, bapak selalu menyela dengan bijak. menurut bapak, saya tidak mungkin bisa berenang tanpa pernah berani menyentuh air. saya masih ingat kalimat bapak itu. "siapapun tidak mungkin bisa berenang tanpa pernah berani menyentuh air". ibu dan bapak kini telah damai di sebuah dunia yang lain. sepuluh tahun silam beliau mendahului kami meninggalkan cinta dan kenangan yang kekal. di manapun setiap kali saya melihat sungai, saya terkenang ibu.
saya senang bisa memilki blog ini; sebuah tempat maya yang bisa membuatku meraih kebebasan dan kemerdekaan kecil; nilai-nilai yang tidak lagi mudah dijumpai di dunia luar sana. saya tidak tahu apakah nanti bisa cukup disiplin untuk sekadar bersetia mencatat setiap peristiwa yang menurutku harus dicatat, dan dibagikan ke orang. tapi semoga saja jawabannya iya. dan di kesempatan pertama ini saya ingin mengucapkan selamat datang kepada kawan-kawan yang akan datang menghampiri, mungkin sekadar menyapa, menyela, atau bahkan ingin memberi dan berbagi di blog ini. sebelum semua niat baik dan tulus itu terwujud, saya haturkan beribu terima kasih
. bienvenidos...
(foto: vidayyub ahmad/sindo sulsel)
Langganan:
Postingan (Atom)