Sabtu, 24 Januari 2009

masjid


saya sangat jarang mampu menyimak materi khutbah yang dibawakan khatib saat salat jumat. biasanya, pikiran saya melantur ke mana-mana saat khatib beridiri di mimbar. apalagi, kalau materi khutbah melulu berbicara soal surga-neraka. hemat saya, mengajak seseorang orang untuk meningkatkan keimanan bukan harus selalu dengan metode ancam-mengancam, melainkan bisa dengan hal-hal sederhana saja. mungkin saja dengan cara-cara sederhana itu orang bisa lebih terketuk hatinya mengenal agamanya dan mencintai tuhannya.

saya merasa beruntung bisa turut mendengar khutbah yang dibawakan seorang dai di sebuah masjid sederhana di bilangan urip sumoharjo, makassar. khatib itu, saya yakin selain sangat paham tentang agama, dia juga seorang cendekia. berbeda dengan materi sebagian khatib di masjid-masjid beberapa kesempatan jumat belakangan ini--yang umumnya berbicara soal serangan israel ke palestina, khatib yang ini memilih berbicara tentang hal sederhana saja, yakni perilaku umat muslim yang semakin berubah dari hari ke hari. tapi sebelumnya, saya perlu menegaskan bahwa saya bukannya tidak simpati kepada saudara kita di palestina yang menderita, namun saya merasa kita perlu melakukan sesuatu yang lain dari pada hanya sebatas marah dan mengutuk, yang ternyata tidak membuat perubahan yang berarti bagi kehidupan rakyat palestina.

khatib itu berbicara tentang perilaku umat muslim kontemporer yang disebutnya mulai menyimpang dari ajaran islam. itu antara lain dilihat dari tata cara peringatan maulid nabi yang di banyak tempat diperingati dengan pesta, hingga kebiasaan berziarah kubur kaum muslim. menurutnya, esensi berziarah ke kuburan tidak lebih sebagai bentuk penghargaan bagi orang yang telah mati dengan cara berdoa untuknya. celakanya, banyak orang yang kini memperlakukan kuburan seolah itu tuhan yang harus ia sembah.

khatib itu juga mengkritik perilaku umat muslim yang tidak lagi menjadikan masjid sebagai pusat peradaban. manusia kontemporer disebutnya kini lebih memilih pergi ke mal ketimbang masjid. generasi mendatang diakuinya akan sangat terasing dengan masjid karena sedari bayi, anak-anak sudah diperkenalkan dengan mal dan budaya konsumtifnya.

saya yakin, sebagian besar, atau mungkin semua orang yang mendengar ceramah itu, termasuk saya, akan memeriksa dirinya. sebarapa seringkah mereka ke masjid untuk berjamaah ketimbang refresing ke mal?

khatib itu menyebut perubahan perilaku umat itu sebagai evolusi. sebuah proses perubahan yang kian menjauhkan orang dari nilai-nilai agamanya. saya teringat cendekiawan muslim komaruddin hidayat yang melihat kelemahan umat muslim yang tidak mampu mentransfer kebajikan dan nilai-nilai luhur peradaban yang ada di masjid. menurut komaruddin, di masjidlah sesungguhnya peradaban mulia terletak. di masjid, semua orang mengangungkan kebersihan dan keindahan. siapapun yang ke masjid, perlu lebih dulu menyucikan dirinya dengan wudhu. di masjid pula orang bisa lebih tenang dan berlaku tertib. tidak ada perilaku saling mendahului. dalam salat, makmun tidak akan pernah mau mendahului imam. tapi sayang nilai-nilai peradaban itu hanya berlaku di dalam masjid, dan tidak diaplikasikan dalam kehidupan di luar masjid.

tak dipungkiri budaya mal memang hampir sudah menguasai perilaku manusia perkotaan. orang ke mal, tidak lagi semata karena kebutuhan membeli sesuatu, melainkan sekadar gaya hidup. bagi kaum urban, gaya hidup adalah eksistensi kemanusiaan itu sendiri. jika descartes memiliki tesis "saya berpikir maka saya ada", kira-kira kaum urban berprinsip, "saya ke mal maka saya ada". budaya mal sudah demikian kuat mencengkeram dan mengusai kehidupan. dan kaum urban larut dan menikmatinya seolah tidak terjadi sesuatu yang salah. barangkali, ini yang disebut antonio gramsci dengan hegemoni. manusia tunduk dalam sebuah kuasa kebudayaan, dan mereka merasa nyaman atas penguasaan itu. sebuah hegemoni budaya.

khatib di masjid di urip sumoharjo siang itu tidak mengatakan bahwa pola hidup dan kebudayaan masyarakat perkotaan itu salah atau menyimpang. dia hanya mengingatkan siapapun untuk lebih berhati-hati akan apa yang telah diperbuatnya. juga mengingatkan berhati-hati dengan evolusi yang kian mengikis nilai-nilai syariat, bahkan akidah kaum muslimin hari ini. menurutnya, sebuah hal yang niscaya ketika evolusi yang terus bergerak dan bergerak itu, akan kian membenamkan kaum muslimin dalam budaya kapitalistik, kebudayaan yang mengasingkan kaum muslim dari nilai-nilai ajaran agamanya.

khatib siang itu berceramah sekitar 30 menit, tapi saya merasa ingin dia lebih lama. saat meninggalkan masjid seusai salat, saya tiba-tiba merasa perlu bertanya pada diri sendiri. apakah saya ini baru akan menginjak masjid lagi pada jumat depan? apakah di luar sana saya termasuk di antara orang-orang yang tidak mampu mengaplikasikan nilai peradaban yang ada di masjid? saya tidak tahu. saya hanya merasa ada sesuatu yang perlu diubah. segera harus diubah.

1 komentar:

  1. kayaknya p bakti harus menularkan sedikit pencerahan kepad teman-teman lain di sindo. berbagilah walau itu sedikit teman. bukankah seperti itu pesan rasul?

    BalasHapus