Selasa, 24 Maret 2009

waktu

ungkapan klasik mengatkan, seharusnya kitalah yang harus mengatur waktu, bukan justru sebaliknya, waktu yang mengatur kita. pekerjaan sebagai wartawan menuntut saya setiap hari harus menjalani deadline. dengan begitu, tiap hari dikejar waktu. setiap hari pula saya merasa tertekan oleh deadline itu. padahal, sebenarnya mudah saja untuk tidak tertekan dengan deadline, yakni cukup dengan mengatur penggunaan waktu. namun, justru di sinilah kelemahan itu. saya bukan seorang pengguna waktu yang baik.

jam pulang kantor saya tidak pernah jauh dari pukul 00.00 dinihari. waktu istirahat saya parktis hanya lima jam. tidur lima jama awalnya agak berat. namun sekarang sudah terbiasa. banyak yang bertanya, mengapa pekerjaan saya ini demikian berat. pergi pukul 09.00 dan kembali pada pukul 00.00. terhadap mereka yang bertanya itu, saya tidak pernah menjawabnya, karena memang pada dasarnya saya tidak tahu apa jawabannya.

hari ini saya ingin membuat berita bagus dan kuat. sekadar kenang-kenangan dalam menyambut wajah baru koran tempat saya bekerja. namun, karena manajemen waktu saya yang buruk, saya baru bisa tiba di kantor pukul 17.00, sedangkan deadline saya 20.00. dalam rentang tiga jam itu, saya sungguh merasa dikejar-kejar oleh waktu. kalau saja saya bisa datang ke kantor pada pukul 14.00, pasti semuanya akan bercerita lain.
]
tapi itulah saya, yang tak pernah cukup baik mengatur waktu.

sepekan lalu saya berangkat ke bone. lepas kangen dengan saudara-saudara dan sahabat. saya hanya punya waktu dua hari, tapi di kampung saya merasa bahagia sekali. di kampung masih ada hutan, itik berenang, pohon kelapa, anak gembala dan lain-lain. saya menyimpulkan, kebahagiaan bukan karena banyaknya waktu luang, melainkan bagaimana caranya menggunakan waktu itu.

kampung juga banyak menginspirasi saya. di sana ketulusan benar-benar ketulusan. kampung juga lebih bersih, indah, dan tertib. saya ingat sebuah film. seorang bocah sedang berjalan kaki di dekat hutan bersama kakeknya. cucu itu lantas bertanya, mengapa kakeknya memilih tinggal di desa dari pada di kota.

jawaban kakek itu, "Kita tinggal di desa agar tuhan dapat melihat kita dengan leluasa.

Jumat, 06 Maret 2009

buta hati

pagi ini saya bertemu dengan seorang pria yang matanya buta. dia datang menghampiri saat saya sedang duduk di sebuah kios pejual pulsa telepon seluler. orang itu berumur kira-kira 40 tahun. dia digandeng oleh seorang perempuan yang usianya tampak lebih muda. mungkin itu istrinya, atau saudaranya. saat dia menengadahkan tangannya, spontan saya merogoh saku saya. saya mengeluarkan selembar uang kertas dan memeberinya tanpa berkata-kata. dia lantas mengucapkan kalimat yang maknanya tidak begitu saya mengerti. saya cuma mengira-ngira kalau dia berterima kasih.

saat orang itu berlalu, saya tiba-tiba bertanya pada diri sendiri apakah sewaktu menyodorkan lembaran kertas tadi itu saya dalam kondisi iklhlas? entahlah. karena tidak ingin menggugurkan pahala, saya memilih meyakinkan diri kalau tadi itu saya ikhlas memberi. saya mencoba menyembunyikan keraguan yang muncul tentang orang itu. jujur, saya sempat bergumam di hati, mengapa orang itu rela menggadaikan harga dirinya dengan meminta-minta. bukankah masih ada pekerja lain yang lebih bermartabat. bukankah masih banyak orang cacat lainnya yang tetap kuat merawat harga dirinya dengan mencoba berkreasi tanpa perlu meminta-minta?

saya berharap, semoga orang itu segera terbuka hatinya. saya tahu, kondisi fisiknya yang terbatas bukanlah kehendaknya, melainkan kuasa sang pencipta. tapi tuhan juga memberi umatnya kelebihan lain yang bisa dimanfaatkan dalam menjalani hidup. sampai di titik ini saya merasa harus berucap syukur karena lahir tidak dalam keadaan buta. terlebih saya bersyukur kalau ternyata saya juga tidak tergolong manusia yang buta hati. semoga.

pagi ini juga saya membaca berita menarik di halaman depan koran. sejumlah pemuda membakar topeng seorang tokoh politik nasional. topeng yang dibakar itu bergambar seorang ketua partai besar. itu dilakukan karena pemuda itu kecewa caleg yang didukung dipecat partainya. tokoh asal sulsel itu dipecat karena diduga terlibat korupsi. petugas kpk menangkapnya dengan barang bukti uang senilai miliaran rupiah. pemuda tadi itu tidak hanya membakar, tapi juga mengancam memboikot partai yang memecat tokoh dukungannya itu pada pemilu.

saya tidak tahu apa yang membuat pemuda itu sebegitu rupa membela sang tokoh. kalau mereka kecewa, saya paham. tapi bukankah ada proses hukum yang akan membuktikan apakah sang tokoh bersalah atau tidak. kalau kecewa tokohnya dipecat, bukankah itu memang sudah hak partai. mengapa tidak mendukung dengan cara-cara elegan saja, misalnya meminta sang tokoh tegar dan berkomitmen tidak akan memilih caleg lain selain sang tokoh.

seorang kolega tokoh yang ditangkap itu saya minta komentarnya sesaat setelah sang tokoh tertangkap. dia juga seorang wakil rakyat yang bertugas di jakarta. awalnya ia menolak berkomentar karena persoalan tenggang rasa. namun, dia akhirnya mengatakan, saatnya rakyat memilih wakilnya sesuai pertimbangan nurani. bukan karena uang. demokrasi katanya hanya bisa dibangun dengan kejujuran dan sportivitas.

katanya, uang memang perlu, tapi jangan sampai membuat hati kita buta.

makassar, 15.30 wita
sabtu 07 maret 2008