hari ini saya masuk kantor dalam keadan tidak fit. flu berat menyerang saya sejak kemarin. kemarin, saya bahkan tidak bisa bangkit dari tempat tidur dan akhirnya minta izin untuk tidak masuk kantor. tapi alhamdulillah, hari ini kesehatan saya mulai membaik kendati belum pulih benar. tanggung jawab memaksa saya harus berada berada di depan komputer lagi sekarang.
saat suhu badan saya sedang tinggi-tingginya kemarin, beragam bayangan berkelebat di pikiran. saya tidak tahu apakah semua itu mimpi atau halusinasi. atau pengalaman alam bawah sadar yang muncul akibat pikiran dan perasaan yang sedang tidak stabil? saya tidak tahu. yang pasti, dalam keadaan terserang panas tinggi itu, saya menemukan diri saya sedang berada di tengah lautan. lautan tidak bertepi yang membuat saya teramat takut. sekali waktu saya bertemu dengan almarhum tante saya. beliau kami panggil dengan sebutan iyya. hanya, saya tidak ingat persis peristiwa saya dengan beliau malam itu. saya hanya berkesimpulan bahwa beliau memang amat jarang saya doakan. saya telah banyak lupa kepada orang-orang yang telah banyak berjasa dalam hidup saya.
sakit sehari kemarin menyadarkan saya betapa kesehatan itu sangat penting. celakanya, kesadaran menjaga kesehatan itu hanya ada tatkala sakit mendera. tapi setelah itu, semua seolah dilupakan. saya akan kembali ke kebiasan lama; sering terlambat makan karena diburu deadline, kerap pulang tengah malam, menenggak kopi bergelas-gelas setiap hari, dan malas mengonsumsi vitamin. beruntung saya tidak merokok. tapi di ruang kerja saya, asap beracun itu tetap saya hirup. itu kiriman orang-orang di sekitar saya. saya tidak habis pikir, mengapa orang tidak bisa sedikit menghargai orang yang tidak merokok, katakanlah mereka sedikit bijak merokok di luar ruangan saja. tapi sudahlah. saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dan hanya mencoba maklum, bukankah untuk menjadi bijak memang butuh kebesaran jiwa. dan itu tidak dimiliki banyak orang di negeri ini.
maka dari itu, ketika ulama negeri ini memfatwakan haram merokok, saya hanya bisa tersenyum kecut. hemat saya, jangankan fatwa ulama, fiman tuhan dan hadis nabi saja bagi sebagian orang amat gampang melanggarnya. saya bukan menyepelekan fatwa itu. hanya, saya merasa agak aneh ketika hal-hal seperti itu harus menjadi urusan ulama. lagi pula, kalau rokok memang haram, mengapa baru sekarang? itu pertanyaan besarnya. saya malah khawatir fatwa ulama itu hanya akan diperlakukan tak lebih perlakuan terhadap peringatan pemerintah di kemasan rokok tentang bahaya mengisap rokok. seorang teman sering mempelesetkan kalimat peringatan itu. dengan nakalnya kalimat itu diubah. katanya: peringatan! pemerintah merokok, dapat merugikan kesehatan.
foto: vidayyub ahmad/sindo sulsel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar