Sabtu, 07 Februari 2009

godot


seperti menunggu godot. penantian yang tak pernah pasti dan berujung sia-sia...

sastrawan samuel becket dalam naskah teater waiting for godot mengisahkan dua orang tokoh, vladimir dan estragon, yang menanti kedatangan seorang tokoh bernama godot. namun, hingga cerita selesai, tokoh godot yang dinantikan vladimir dan estragon itu tidak pernah muncul. godot akhirnya hanya menjadi sebuah nama tanpa wujud. sebuah simbol bagi penantian panjang. bahkan, penantian yang sia-sia.

beberapa hari terakhir ini saya melihat wajah kawan-kawan wartawan di sindo makassar tak ubahnya tokoh vladimir dan estragon dalam cerita klasik itu. namun, wujud godot yang ditunggu kawan-kawan di sindo makassar berupa lembaran kontrak kerja pengangkatan menjadi karyawan resmi perusahaan. awalnya, penantian kawan-kawan itu hanyalah penantian biasa saja. tak ada harapan besar di situ. namun, seiring perjalanan waktu, penantian kawan-kawan itu berubah menjadi sesuatu yang menjemukan, bahkan menjengkelkan.

di awal-awal menjadi bagian komunitas ini, telinga saya pernah mendengar bahwa akan ada pengangkatan menjadi karyawan tetap perusahaan setelah kami bekerja enam bulan. itu kejadiannya sekitar Agustus 2007. sebagian kawan-kawan saat itu kemudian berhitung maju. mereka lalu yakin akan menjadi karyawan perusahaan, bukan pegawai kontrak lagi, pada januari 2008. asa itu terus tumbuh subur karena dipupuk dengan taburan janji dari manajemen. namun, kenyataan rupanya jauh panggang dari api. pengangkatan itu ditunda. kawan-kawan pun saat itu cenderung belum mempersoalkan. manajemen kemudian menjanjikan lagi akan menjadikan kami organik pada tengah 2008. saat janji itu jatuh tempo lagi, kembali itu tidak dipenuhi. tawaran manajemen mulur lagi menjadi januari 2009.

saya salut dengan semangat kawan-kawan di sini. kendati janji-janji tidak juga mewujud, mereka berusaha tetap profesional dengan bekerja setiap hari. tapi saya tidak tahu, apakah mereka masih bekerja dengan hati atau sekadar menggugurkan kewajiban dengan datang menyetor berita. sebagian teman mengaku tidak masalah belum menjadi karyawan tetap. yang mereka sesalkan adalah janji-janji yang tidak ditepati. sebagian mengaku semangat dan motivasi menurun karena merasa dipermainkan. kondisi yang harus dimaklumi, karena orang pasti berbeda-beda dalam memperlakukan janji. saya ingat pesan seorang bijak. katanya jangan terlalu terbang tinggi oleh sebuah janji, biar jatuhnya nanti tidak terlalu sakit. bersyukur saya termasuk yang memegang pesan itu. saya tidak pernah berharap terlalu banyak. konon itu cara yang baik untuk tidak kecewa berat.

sekarang sudah februari. januari yang dijanjikan sudah lewat sebulan. namun, saat januari tiba sebulan lalu, ada yang berbeda dari kejadian-kejadian sebelumnya. ini tidak biasanya dilakukan pihak manajemen. saya tidak dengar lagi ada janji pengangkatan. yang ada kini justru kabar buruk, yakni kemungkinan ada kawan yang tidak diangkat, bahkan ada yang harus dieliminasi. tapi semua masih kabar kabur. meski saya tahu tidak bakal ada asap jika tak ada api. saya hanya berharap kabar buruk itu tidak menjadi nyata. saya bahkan tidak mau memikirkan itu dua kali.

saya tahu, kawan-kawan di sindo makassar, termasuk juga saya, tetap menanti janji pengangkatan yang sekian kali diucapkan dan diingkari itu. saya lihat kawan-kawan juga sudah sangat jarang bertanya tentang status karyawan itu. entah apa yang ada di pikiran masing-masing kini. mungkin ada yang sudah lelah bertanya, atau pasrah, atau marah. kalau toh marah, mereka sejauh ini hanya bisa marah dalam hati.

saat menulis ini saya terus diliputi rasa prihatin. prihatin karena menjumpai nasib kami layaknya vladimir dan estragon yang terus menunggu godot. setia menunggu sesuatu yang tidak pernah ada.

foto: internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar