saya ada di makassar dalam enam hari ini. saya datang untuk menggelar pertunjukan teater di gedung kesenian societeit de harmonie, makassar. kami dari kala teater mementaskan naskah klasik karya samuel beckett "waiting for godot". puji syukur, pertunjukan cukup sukses. saya juga bahagia bisa bertemu dengan teman-teman di sini, terutama shinta febriany, sutradara saya yang begitu saya kagumi dari waktu ke waktu. andai saja saya memujinya seperti ini di depannya, dia pasti melontarkan kata ini: "bagayana". hehe.. itu ungkapan khasnya begitu saya mencandainya. saya mengenalnya delapan atau sembilan tahun silam. dia pribadi yang baik. saya juga kagum dengan pilihan hidupnya yang memeluk erat kesenian. meski ia perempuan, tapi totalitasnya terhadap dunia seni, khususnya teater, tak ada yang menyamai. kontribusinya terhadap teater di makassar tidak tertandingi. mungkin itu salah satu alasan yang membuat saya jatuh hati padanya dan siap selalu bekerja sama dengannya. selain karena dia sangat cantik, tentu saja. ehm. wallahualam bissawab. ;)
apa kabar makassar?
apakah di musim hujan kali ini semua baik-baik saja? saya berharap musim hujan ini mampu membuat hati setiap orang ikut menjadi dingin. saya sangat membenci pertengkaran. alangkah kurang taktisnya kita jika melewati hidup dengan mengiisinya dengan pertengkaran dan perselisihan saja. mengapa kita tidak tertawa dan berbahagia saja setiap hari. itu saya yakin akan lebih indah. kita boleh marah sepanjang itu kuat alasannya dan jika ditinjau dari segala aspek, marah saat itu sangat perlu, bahkan sangat dibutuhkan. betapapun, marah perlu kontekstual juga, kan?. namun, setelah marah, tentu saja melupakan semua dan berkomitmen sesedikit mungkin untuk marah lagi di lain kesempatan.
o ya, seharusnya cuti saya berakhir 13 januari hari ini. tapi saya belum bisa balik ke jakarta karena ada perintah atasan agar tinggal dulu barang lima hari di sini. dan, akhirnya, saya kembali bekerja di kantor ini. terpaksa saya meminjam komputer teman yang dulu komputer saya. juga meja kerja yang sama. banyak kenangan tertoreh di ruangan yang lembap dengan warna tembok pucat ini. di sini saya melewati hari-hari yang penuh stres di kejar deadline pengiriman berita. ah, kadang-kadang saya merasa sungguh hidup ini hanya berputar-putar. saya menemui banyak penanda yang membuktikan kalau hidup hanya berputar saja. seperti halnya saya kembali bekerja di kantor di makassar, meski hanya sementara saja, penandanya adalah ruang. tentu bukan hanya ruang, tapi kenangan di ruangan itu. ya, saya kembali ke ruangan yang sama setelah lebih setahun, dengan problem yang sama. kenangan yang dulu ingin dikubur, juga kembali juga ke ruangan ini. saya tidak senang berada di ruangan ini terus terang. bukan karena apa, saya lebih senang melihat tempat yang baru; menciptakan kenangan. bukan justru kembali ke sebuah tempat di mana dulu ada perjuangan "berdarah-darah" di situ, perjuangan untuk lepas dari persoalan yang membelit sejak delapan atau sembilan tahun silam. sekarang apa yang terjadi? dari dulu persoalan itu tidak bisa selesai. sampai detik ini ketika saya kembali berada di ruangan ini, juga tidak ada yang selesai. nyaris tidak ada yang berubah. ikhtiar untuk melupa selalu saja dilakukan, tapi seolah-olah semakin dilakukan semakin sulit untuk dicapai.
sekarang saya berharap bisa segera ke jakarta kembali. memulai aktivitas yang rutin. dengan begitu, bisa saja saya menenggelamkan sebagian problematika hidup yang mengungkung dan membelit. saya ingin tenggelam ke pekerjaan saya. mungkin saya berada di sana sampai tua. menulis dan mengedit berita setiap hari pasti membosankan. tapi mau apalagi, itu dunia saya yang saya dekap erat dengan hangat, sebagaimana shinta febriany memeluk teater.
saya akan bekerja di kantor sampai batas kemampuan untuk bertahan. hanya dengan itu (mungkin) saya bisa menghilangkan galau akibat hasrat memiliki yang tidak berbalas. ini kedengaran melankolis, atau kata anak muda sekarang; melow. tapi jika saja kamu tahu bahwa perasaan yang sama selalu terbawa sejak delapan atau sembilan tahun, kamu akan percaya bahwa saya tidak salah. dulu saya berusaha keras untuk lepas dari ingatan-ingatan dan pikiran-pikiran tentangnya. tapi apa? nol. jarak tidak bisa begitu saja menghapus seseorang dari ingatanmu. percayalah itu. bahkan, alih-alih bisa melupakannya, menguburnya, bisa jadi kamu malah tambah mencintainya. dan, itulah yang terjadi sekarang saudara-saudara. :)
Senin, 09 Juli 2012
Kamis, 12 Januari 2012
Rabu, 28 Desember 2011
kembali..
entah apa yang membuat saya nyasar masuk ke blog yang sudah dua tahun tidak saya buka ini.. mungkin kebetulan saja. ah, rasanya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. semua yang terjadi sudah seharusnya, sesuai skenarionya. atau alasan lain, saya masuk ke blog ini karena iseng saja? atau karena memang sudah waktunya, sudah takdir? ah, tidak penting. tak perlu membuang-buang waktu membicarakan takdir. itu hanya rumus bagi orang yang mudah putus asa dan galau. mungkin lebih penting jika saya mencatat sesuatu di sini. ya, sekadar berbagi cerita ringan, seperti yang terjadi ketika dua sahabat karib kembali bertemu tanpa sengaja di sebuah tempat di mana mereka tergesa-gesa dan hanya punya sedikit waktu. tak perlu bercerita yang berat-berat, cukup yang ringan saja.
ada sedikit catatan yang dulu tertoreh di sini. saya tersenyum sendiri ketika membacanya kembali. bukan karena cerita di dalamnya lucu, melainkan saya jadi teringat beberapa peristiwa yang sebetulnya telah saya lupakan. saya jadi sadar betapa pentingnya mencatat peristiwa. itu bisa membuat kita tersenyum, terharu, atau perasaan yang lainnya yang bisa muncul suatu ketika, di masa depan. mungkin perasaan senang atau bahagia.
saya ingat membuat blog ini ketika masih tugas sebagai reporter di makassar dulu. saya sekarang hidup di sebuah belantara yang lebih keras, lebih kejam: jakarta. banyak orang yang telah saya temui di sini, dengan karakter dan sifat masing-masing. itu tentu pengalaman menarik. saya memiliki banyak teman baru yang kini pelan-pelan menjadi teman lama. semoga selalu ada teman baru lainnya yang datang kemudian. semoga saja. memiliki banyak teman bukankah sangat baik. bahkan, seorang teman saya dulu mengajari agar saya berusaha memiliki teman baru minimal satu orang setiap hari. wow menarik, bakal ada minimal 30 orang teman baru dalam sebulan. sayang, saya tidak melakukan apa yang disarankannya itu. soalnya, jujur saja, saya susah akrab dengan orang yang baru saya kenal. butuh waktu lama. teman sekantor saja perlu berbulan-bulan untuk sekadar mengobrol dan bercanda dengan mereka. ah, saya ini memang sangat tidak menarik dalam hal ini. dan pastinya tidak menghibur. tapi sudahlah..
lebih baik saya bernostalgia saja. tentu banyak yang berubah dalam dua tahun terakhir. umur, warna kulit, tabiat, kesetiaan, rambut putih di kepala, dan lain-lain. tapi satu yang tak boleh berubah: kebebasan dan kemerdekaan berpikir. hehe.. saya sedang ngomong apa? saya kadang malu sendiri sering merasa diri sebagai sosok yang lain, berbeda dengan orang kebanyakan, sok idealis istilah seorang teman saya. tapi sudahlah, mau apalagi. itu karakter yang susah diubah, dan memang tak seharusnya diubah. kata orang, selalu lebih baik jika kamu menjadi dirimu sendiri.
ingin rasanya menulis banyak di sini. sebagai balasan rasa bersalah tidak pernah menengok blog ini selama dua tahun lamanya. tapi apa pula yang harus saya tulis. lagi pula, bukankah sekarang saya sedang menulis, meski saya tidak tahu apa temanya dan ke mana arahnya.
jam sudah pukul 02.30 wib. saatnya saya pulang ke kos. ini sudah pagi. orang sudah siap berangkat bekerja, tapi saya malah masih di depan pc. tapi sebaiknya begitu, sebaiknya saya pulang. lama-lama berada di lantai 22 menara ini terkadang membuat saya khawatir. bagaimana kalau tiba-tiba gedung ini ambruk seperti menara wtc di newyork saat diserang teroris? jadi apa saya. ah, udara dingin yang ditiupkan ac di atas kepala saya, di tambah rasa kantuk yang sejak tadi menyerang, mulai membuat saya sedikit ngawur. mungkin memang sebaiknya saya pulang sekarang. saya tidak boleh sampai pagi di sini. kurang nyaman rasanya kalau harus bertemu dengan sekretaris redaksi baru yang saya belum berani berkenalan itu, dalam kondisi saya belum mandi, belum rapi dan belum manis. bisa-bisa saya gagal memikat hatinya, haha... tapi tidak, dia hanya akan jadi teman, mungkin paling jauh sahabat. hidup ini tak perlu diberi target yang muluk-muluk. menjadi kekasih gadis muda dengan wajah manis seperti dia itu sungguh pekerjaan yang maha berat, haha.. apalagi, kondisi sekarang dengan dulu sudah jauh berbeda. tidak ada waktu lagi untuk berjuang seperti waktu muda dulu. saya sudah 34. energi dan semangat sudah jauh menurun. tidak ada lagi semangat menggebu-gebu ingin memikat hati perempuan. padahal dulu, prinspinya berhasil urusan belakangan, yang penting berani dulu. berani malu, berani deg-degan ketika bertemu pandang, padahal bisa saja gemuruh di dada itu hanya perasaan subjektif saya saja yang sama sekali tidak pernah dirasakan oleh perempuan yang saya lirik.
nah, kalau saya mulai membahas perempuan, bakal panjang ceritanya. bisa-bisa saya menulis terus dan tidak pulang hingga pagi, dengan risiko bakal bertemu dengan gadis muda pemilik bola mata indah itu. ah. :)
ada sedikit catatan yang dulu tertoreh di sini. saya tersenyum sendiri ketika membacanya kembali. bukan karena cerita di dalamnya lucu, melainkan saya jadi teringat beberapa peristiwa yang sebetulnya telah saya lupakan. saya jadi sadar betapa pentingnya mencatat peristiwa. itu bisa membuat kita tersenyum, terharu, atau perasaan yang lainnya yang bisa muncul suatu ketika, di masa depan. mungkin perasaan senang atau bahagia.
saya ingat membuat blog ini ketika masih tugas sebagai reporter di makassar dulu. saya sekarang hidup di sebuah belantara yang lebih keras, lebih kejam: jakarta. banyak orang yang telah saya temui di sini, dengan karakter dan sifat masing-masing. itu tentu pengalaman menarik. saya memiliki banyak teman baru yang kini pelan-pelan menjadi teman lama. semoga selalu ada teman baru lainnya yang datang kemudian. semoga saja. memiliki banyak teman bukankah sangat baik. bahkan, seorang teman saya dulu mengajari agar saya berusaha memiliki teman baru minimal satu orang setiap hari. wow menarik, bakal ada minimal 30 orang teman baru dalam sebulan. sayang, saya tidak melakukan apa yang disarankannya itu. soalnya, jujur saja, saya susah akrab dengan orang yang baru saya kenal. butuh waktu lama. teman sekantor saja perlu berbulan-bulan untuk sekadar mengobrol dan bercanda dengan mereka. ah, saya ini memang sangat tidak menarik dalam hal ini. dan pastinya tidak menghibur. tapi sudahlah..
lebih baik saya bernostalgia saja. tentu banyak yang berubah dalam dua tahun terakhir. umur, warna kulit, tabiat, kesetiaan, rambut putih di kepala, dan lain-lain. tapi satu yang tak boleh berubah: kebebasan dan kemerdekaan berpikir. hehe.. saya sedang ngomong apa? saya kadang malu sendiri sering merasa diri sebagai sosok yang lain, berbeda dengan orang kebanyakan, sok idealis istilah seorang teman saya. tapi sudahlah, mau apalagi. itu karakter yang susah diubah, dan memang tak seharusnya diubah. kata orang, selalu lebih baik jika kamu menjadi dirimu sendiri.
ingin rasanya menulis banyak di sini. sebagai balasan rasa bersalah tidak pernah menengok blog ini selama dua tahun lamanya. tapi apa pula yang harus saya tulis. lagi pula, bukankah sekarang saya sedang menulis, meski saya tidak tahu apa temanya dan ke mana arahnya.
jam sudah pukul 02.30 wib. saatnya saya pulang ke kos. ini sudah pagi. orang sudah siap berangkat bekerja, tapi saya malah masih di depan pc. tapi sebaiknya begitu, sebaiknya saya pulang. lama-lama berada di lantai 22 menara ini terkadang membuat saya khawatir. bagaimana kalau tiba-tiba gedung ini ambruk seperti menara wtc di newyork saat diserang teroris? jadi apa saya. ah, udara dingin yang ditiupkan ac di atas kepala saya, di tambah rasa kantuk yang sejak tadi menyerang, mulai membuat saya sedikit ngawur. mungkin memang sebaiknya saya pulang sekarang. saya tidak boleh sampai pagi di sini. kurang nyaman rasanya kalau harus bertemu dengan sekretaris redaksi baru yang saya belum berani berkenalan itu, dalam kondisi saya belum mandi, belum rapi dan belum manis. bisa-bisa saya gagal memikat hatinya, haha... tapi tidak, dia hanya akan jadi teman, mungkin paling jauh sahabat. hidup ini tak perlu diberi target yang muluk-muluk. menjadi kekasih gadis muda dengan wajah manis seperti dia itu sungguh pekerjaan yang maha berat, haha.. apalagi, kondisi sekarang dengan dulu sudah jauh berbeda. tidak ada waktu lagi untuk berjuang seperti waktu muda dulu. saya sudah 34. energi dan semangat sudah jauh menurun. tidak ada lagi semangat menggebu-gebu ingin memikat hati perempuan. padahal dulu, prinspinya berhasil urusan belakangan, yang penting berani dulu. berani malu, berani deg-degan ketika bertemu pandang, padahal bisa saja gemuruh di dada itu hanya perasaan subjektif saya saja yang sama sekali tidak pernah dirasakan oleh perempuan yang saya lirik.
nah, kalau saya mulai membahas perempuan, bakal panjang ceritanya. bisa-bisa saya menulis terus dan tidak pulang hingga pagi, dengan risiko bakal bertemu dengan gadis muda pemilik bola mata indah itu. ah. :)
Sabtu, 01 Agustus 2009
di umur 12 tahun, suatu hari tanpa sengaja saya mendengar lagu berjudul kasmaran di sebuah tape recorder. entah mengapa saya tiba-tiba merasa senang dengan lagu itu, padahal saya baru akil balik waktu itu. belakangan baru tahu kalau penyanyi lagu itu iga mawarni. iga begitu memukau waktu itu. waktu pun terus berlalu. beberapa kali kemudian saya menyaksikan iga mawarni di televisi. kagum akan suaranya dan wajah manisnya.
malam ini saya duduk merumput di halaman depan gedung tua fort rotterdam. langit cerah. udara bulan agustus berembus hangat. di sebuah panggung megah, iga mawarni melantunkan "andai". suaranya tetap jernih. sangat jazzy. ini pertama kalinya saya melihatnya langsung. saya ke rotterdam malam itu tujuannya menonton jazz@fort_rotterdam yang dihadiri ratusan musisi jazz. tapi saya paling saya tunggu memang penampilan iga.
meminjam kamera seorang teman di lokasi pertunjukan, saya lalu menjepret iga di panggung sebanyak lima atau enam kali. saya puas dengan hasil foto saya. mungkin komposisi dan pencahayaan foto itu tidak begitu baik, tapi saya selalu menganggapnya baik. seorang teman kemudian mempertanyakan mengapa saya harus menyenangi penyanyi jazz, bukankah sangat banyak penyanyi melayu yang belakangan kian memenuhi ruang di televisi.
lebih jauh lagi, teman itu bertanya mengapa saya suka jazz. apa alasannya, kapan mulai, dan banyak lagi. saya mengatakan, "jazz cocok dengan jiwa saya!". saya tidak tahu apa yang mendorong saya harus ke rotterdam malam ini. apa yang membuat saya rela berselonjoran di halaman rettordam. apa yang mebuat saya menjauhi liputan. jawabnya jazz.
saya sulit mendefiniskan apa alasan sehingga saya suka jazz. jazz itu didengarkan. bukan untuk dipikirkan. itu saja.
malam ini saya duduk merumput di halaman depan gedung tua fort rotterdam. langit cerah. udara bulan agustus berembus hangat. di sebuah panggung megah, iga mawarni melantunkan "andai". suaranya tetap jernih. sangat jazzy. ini pertama kalinya saya melihatnya langsung. saya ke rotterdam malam itu tujuannya menonton jazz@fort_rotterdam yang dihadiri ratusan musisi jazz. tapi saya paling saya tunggu memang penampilan iga.
meminjam kamera seorang teman di lokasi pertunjukan, saya lalu menjepret iga di panggung sebanyak lima atau enam kali. saya puas dengan hasil foto saya. mungkin komposisi dan pencahayaan foto itu tidak begitu baik, tapi saya selalu menganggapnya baik. seorang teman kemudian mempertanyakan mengapa saya harus menyenangi penyanyi jazz, bukankah sangat banyak penyanyi melayu yang belakangan kian memenuhi ruang di televisi.
lebih jauh lagi, teman itu bertanya mengapa saya suka jazz. apa alasannya, kapan mulai, dan banyak lagi. saya mengatakan, "jazz cocok dengan jiwa saya!". saya tidak tahu apa yang mendorong saya harus ke rotterdam malam ini. apa yang membuat saya rela berselonjoran di halaman rettordam. apa yang mebuat saya menjauhi liputan. jawabnya jazz.
saya sulit mendefiniskan apa alasan sehingga saya suka jazz. jazz itu didengarkan. bukan untuk dipikirkan. itu saja.
Jumat, 03 April 2009
phk
tiga hari ini saya sedang tidak nyaman melakukan tugas liputan. ada peristiwa yang sungguh sangat mengganggu batin saya. tiga hari lalu, pejabat di dprd, kantor tempat saya posting, memberhentikan dua puluh orang pegawainya. mereka di PHK karena tidak termasuk sebagai calon PNS yang namanya ada di database. pemprov sulsel menolak memperpanjang kontrak ke 20 pegawai tidak tetap (ptt) tersebut karena alasan nama tidak ada di database.
saya merasakan ada kesewenang-wenangan di balik kebijakan itu. sebuah keputusan yang menurut saya sangat gegabah. apakah tidak sebaiknya mempertimbangkan matang sebelum melakukan PHK? bagaimanapun ke 20 orang itu punya jasa besar. ada di antara mereka yang mengabdi di dprd sejak 28 tahun silam. itu bukan waktu yang pendek. yang mereka lakukan sebuah pengorbanan panjang yang tidak pantas dibalas dengan secarik kertas berisi pemutusan kontrak secara tiba-tiba. tidakkah dipikirkan bahwa mereka itu punya keluarga? anak yang harus bersekolah. bagi pejabat dprd dan anggota dewan yang bergelimang uang, mungkin tidak akan pernah merasakan betapa bingungnya mereka yang di phk itu kini.
penguasa boleh berdalih bahwa mereka yang di phk tetap diberikan pesangon. tapi di sini bukan sekadar persoalan pesangon saja. phk itu sungguh jelassebuah sikap otoriter. diduga, ke 20 pegawai itu--sembilan diantaranya petugas keamanan--diberhentikan karena usia mereka yang sudah lanjut. ok, itu bisa dimengerti karena petugas keamanan memang butuh seseorang dengan stamina yang
prima. tapi bukankah bisa saja petugas itu ditempatkan di dprd dengan job yang baru, tukang kebun atau tukang merawat halaman misalnya. lagi pula, diakui kalau ptt itu sudah tidak bugar lagi. tapi bukankah 20 tahun lalu mereka masih bugar dan sehat. hemat saya, justru semakin tua petugas itu semakin dia membutuhkan perhatian. bukan malah memberinya surat phk.
salah seorang petugas keamanan yang di phk, kepada saya mengatakan selama ini dia sangat menggantungkan hidupnya pada pekerjaannya itu. dia telah bertugas di tempat itu sejak masih muda. namun cerita itu kini tinggal cerita saja.
saya sadar bahwa setiap tindakan harus dibarengi aturan. saya telah megonfirmasi sekwan mengapa mereka tidak diangkat kembali. namun, dia bersikukuh bahwa keputusan itu tidak bisa lagi diganggu gugat. saya tahu, berita saya keesokan harinya sedang berpretensi membela mereka para korban phk itu. saya sungguh bersedih.
entah apa yang merasuki jiwa sebagian orang di dprd itu sehingga mereka seolah kehilangan kepekaan. tapi saya yakin, sistem kapitalisme yang sedang berlangsung dan menghegemoni kita semua, adalah salahsatu penyebab yang memandulkan kepekaan nurani itu.
saya merasakan ada kesewenang-wenangan di balik kebijakan itu. sebuah keputusan yang menurut saya sangat gegabah. apakah tidak sebaiknya mempertimbangkan matang sebelum melakukan PHK? bagaimanapun ke 20 orang itu punya jasa besar. ada di antara mereka yang mengabdi di dprd sejak 28 tahun silam. itu bukan waktu yang pendek. yang mereka lakukan sebuah pengorbanan panjang yang tidak pantas dibalas dengan secarik kertas berisi pemutusan kontrak secara tiba-tiba. tidakkah dipikirkan bahwa mereka itu punya keluarga? anak yang harus bersekolah. bagi pejabat dprd dan anggota dewan yang bergelimang uang, mungkin tidak akan pernah merasakan betapa bingungnya mereka yang di phk itu kini.
penguasa boleh berdalih bahwa mereka yang di phk tetap diberikan pesangon. tapi di sini bukan sekadar persoalan pesangon saja. phk itu sungguh jelassebuah sikap otoriter. diduga, ke 20 pegawai itu--sembilan diantaranya petugas keamanan--diberhentikan karena usia mereka yang sudah lanjut. ok, itu bisa dimengerti karena petugas keamanan memang butuh seseorang dengan stamina yang
prima. tapi bukankah bisa saja petugas itu ditempatkan di dprd dengan job yang baru, tukang kebun atau tukang merawat halaman misalnya. lagi pula, diakui kalau ptt itu sudah tidak bugar lagi. tapi bukankah 20 tahun lalu mereka masih bugar dan sehat. hemat saya, justru semakin tua petugas itu semakin dia membutuhkan perhatian. bukan malah memberinya surat phk.
salah seorang petugas keamanan yang di phk, kepada saya mengatakan selama ini dia sangat menggantungkan hidupnya pada pekerjaannya itu. dia telah bertugas di tempat itu sejak masih muda. namun cerita itu kini tinggal cerita saja.
saya sadar bahwa setiap tindakan harus dibarengi aturan. saya telah megonfirmasi sekwan mengapa mereka tidak diangkat kembali. namun, dia bersikukuh bahwa keputusan itu tidak bisa lagi diganggu gugat. saya tahu, berita saya keesokan harinya sedang berpretensi membela mereka para korban phk itu. saya sungguh bersedih.
entah apa yang merasuki jiwa sebagian orang di dprd itu sehingga mereka seolah kehilangan kepekaan. tapi saya yakin, sistem kapitalisme yang sedang berlangsung dan menghegemoni kita semua, adalah salahsatu penyebab yang memandulkan kepekaan nurani itu.
Selasa, 24 Maret 2009
waktu
ungkapan klasik mengatkan, seharusnya kitalah yang harus mengatur waktu, bukan justru sebaliknya, waktu yang mengatur kita. pekerjaan sebagai wartawan menuntut saya setiap hari harus menjalani deadline. dengan begitu, tiap hari dikejar waktu. setiap hari pula saya merasa tertekan oleh deadline itu. padahal, sebenarnya mudah saja untuk tidak tertekan dengan deadline, yakni cukup dengan mengatur penggunaan waktu. namun, justru di sinilah kelemahan itu. saya bukan seorang pengguna waktu yang baik.
jam pulang kantor saya tidak pernah jauh dari pukul 00.00 dinihari. waktu istirahat saya parktis hanya lima jam. tidur lima jama awalnya agak berat. namun sekarang sudah terbiasa. banyak yang bertanya, mengapa pekerjaan saya ini demikian berat. pergi pukul 09.00 dan kembali pada pukul 00.00. terhadap mereka yang bertanya itu, saya tidak pernah menjawabnya, karena memang pada dasarnya saya tidak tahu apa jawabannya.
hari ini saya ingin membuat berita bagus dan kuat. sekadar kenang-kenangan dalam menyambut wajah baru koran tempat saya bekerja. namun, karena manajemen waktu saya yang buruk, saya baru bisa tiba di kantor pukul 17.00, sedangkan deadline saya 20.00. dalam rentang tiga jam itu, saya sungguh merasa dikejar-kejar oleh waktu. kalau saja saya bisa datang ke kantor pada pukul 14.00, pasti semuanya akan bercerita lain.
]
tapi itulah saya, yang tak pernah cukup baik mengatur waktu.
sepekan lalu saya berangkat ke bone. lepas kangen dengan saudara-saudara dan sahabat. saya hanya punya waktu dua hari, tapi di kampung saya merasa bahagia sekali. di kampung masih ada hutan, itik berenang, pohon kelapa, anak gembala dan lain-lain. saya menyimpulkan, kebahagiaan bukan karena banyaknya waktu luang, melainkan bagaimana caranya menggunakan waktu itu.
kampung juga banyak menginspirasi saya. di sana ketulusan benar-benar ketulusan. kampung juga lebih bersih, indah, dan tertib. saya ingat sebuah film. seorang bocah sedang berjalan kaki di dekat hutan bersama kakeknya. cucu itu lantas bertanya, mengapa kakeknya memilih tinggal di desa dari pada di kota.
jawaban kakek itu, "Kita tinggal di desa agar tuhan dapat melihat kita dengan leluasa.
jam pulang kantor saya tidak pernah jauh dari pukul 00.00 dinihari. waktu istirahat saya parktis hanya lima jam. tidur lima jama awalnya agak berat. namun sekarang sudah terbiasa. banyak yang bertanya, mengapa pekerjaan saya ini demikian berat. pergi pukul 09.00 dan kembali pada pukul 00.00. terhadap mereka yang bertanya itu, saya tidak pernah menjawabnya, karena memang pada dasarnya saya tidak tahu apa jawabannya.
hari ini saya ingin membuat berita bagus dan kuat. sekadar kenang-kenangan dalam menyambut wajah baru koran tempat saya bekerja. namun, karena manajemen waktu saya yang buruk, saya baru bisa tiba di kantor pukul 17.00, sedangkan deadline saya 20.00. dalam rentang tiga jam itu, saya sungguh merasa dikejar-kejar oleh waktu. kalau saja saya bisa datang ke kantor pada pukul 14.00, pasti semuanya akan bercerita lain.
]
tapi itulah saya, yang tak pernah cukup baik mengatur waktu.
sepekan lalu saya berangkat ke bone. lepas kangen dengan saudara-saudara dan sahabat. saya hanya punya waktu dua hari, tapi di kampung saya merasa bahagia sekali. di kampung masih ada hutan, itik berenang, pohon kelapa, anak gembala dan lain-lain. saya menyimpulkan, kebahagiaan bukan karena banyaknya waktu luang, melainkan bagaimana caranya menggunakan waktu itu.
kampung juga banyak menginspirasi saya. di sana ketulusan benar-benar ketulusan. kampung juga lebih bersih, indah, dan tertib. saya ingat sebuah film. seorang bocah sedang berjalan kaki di dekat hutan bersama kakeknya. cucu itu lantas bertanya, mengapa kakeknya memilih tinggal di desa dari pada di kota.
jawaban kakek itu, "Kita tinggal di desa agar tuhan dapat melihat kita dengan leluasa.
Jumat, 06 Maret 2009
buta hati
pagi ini saya bertemu dengan seorang pria yang matanya buta. dia datang menghampiri saat saya sedang duduk di sebuah kios pejual pulsa telepon seluler. orang itu berumur kira-kira 40 tahun. dia digandeng oleh seorang perempuan yang usianya tampak lebih muda. mungkin itu istrinya, atau saudaranya. saat dia menengadahkan tangannya, spontan saya merogoh saku saya. saya mengeluarkan selembar uang kertas dan memeberinya tanpa berkata-kata. dia lantas mengucapkan kalimat yang maknanya tidak begitu saya mengerti. saya cuma mengira-ngira kalau dia berterima kasih.
saat orang itu berlalu, saya tiba-tiba bertanya pada diri sendiri apakah sewaktu menyodorkan lembaran kertas tadi itu saya dalam kondisi iklhlas? entahlah. karena tidak ingin menggugurkan pahala, saya memilih meyakinkan diri kalau tadi itu saya ikhlas memberi. saya mencoba menyembunyikan keraguan yang muncul tentang orang itu. jujur, saya sempat bergumam di hati, mengapa orang itu rela menggadaikan harga dirinya dengan meminta-minta. bukankah masih ada pekerja lain yang lebih bermartabat. bukankah masih banyak orang cacat lainnya yang tetap kuat merawat harga dirinya dengan mencoba berkreasi tanpa perlu meminta-minta?
saya berharap, semoga orang itu segera terbuka hatinya. saya tahu, kondisi fisiknya yang terbatas bukanlah kehendaknya, melainkan kuasa sang pencipta. tapi tuhan juga memberi umatnya kelebihan lain yang bisa dimanfaatkan dalam menjalani hidup. sampai di titik ini saya merasa harus berucap syukur karena lahir tidak dalam keadaan buta. terlebih saya bersyukur kalau ternyata saya juga tidak tergolong manusia yang buta hati. semoga.
pagi ini juga saya membaca berita menarik di halaman depan koran. sejumlah pemuda membakar topeng seorang tokoh politik nasional. topeng yang dibakar itu bergambar seorang ketua partai besar. itu dilakukan karena pemuda itu kecewa caleg yang didukung dipecat partainya. tokoh asal sulsel itu dipecat karena diduga terlibat korupsi. petugas kpk menangkapnya dengan barang bukti uang senilai miliaran rupiah. pemuda tadi itu tidak hanya membakar, tapi juga mengancam memboikot partai yang memecat tokoh dukungannya itu pada pemilu.
saya tidak tahu apa yang membuat pemuda itu sebegitu rupa membela sang tokoh. kalau mereka kecewa, saya paham. tapi bukankah ada proses hukum yang akan membuktikan apakah sang tokoh bersalah atau tidak. kalau kecewa tokohnya dipecat, bukankah itu memang sudah hak partai. mengapa tidak mendukung dengan cara-cara elegan saja, misalnya meminta sang tokoh tegar dan berkomitmen tidak akan memilih caleg lain selain sang tokoh.
seorang kolega tokoh yang ditangkap itu saya minta komentarnya sesaat setelah sang tokoh tertangkap. dia juga seorang wakil rakyat yang bertugas di jakarta. awalnya ia menolak berkomentar karena persoalan tenggang rasa. namun, dia akhirnya mengatakan, saatnya rakyat memilih wakilnya sesuai pertimbangan nurani. bukan karena uang. demokrasi katanya hanya bisa dibangun dengan kejujuran dan sportivitas.
katanya, uang memang perlu, tapi jangan sampai membuat hati kita buta.
makassar, 15.30 wita
sabtu 07 maret 2008
saat orang itu berlalu, saya tiba-tiba bertanya pada diri sendiri apakah sewaktu menyodorkan lembaran kertas tadi itu saya dalam kondisi iklhlas? entahlah. karena tidak ingin menggugurkan pahala, saya memilih meyakinkan diri kalau tadi itu saya ikhlas memberi. saya mencoba menyembunyikan keraguan yang muncul tentang orang itu. jujur, saya sempat bergumam di hati, mengapa orang itu rela menggadaikan harga dirinya dengan meminta-minta. bukankah masih ada pekerja lain yang lebih bermartabat. bukankah masih banyak orang cacat lainnya yang tetap kuat merawat harga dirinya dengan mencoba berkreasi tanpa perlu meminta-minta?
saya berharap, semoga orang itu segera terbuka hatinya. saya tahu, kondisi fisiknya yang terbatas bukanlah kehendaknya, melainkan kuasa sang pencipta. tapi tuhan juga memberi umatnya kelebihan lain yang bisa dimanfaatkan dalam menjalani hidup. sampai di titik ini saya merasa harus berucap syukur karena lahir tidak dalam keadaan buta. terlebih saya bersyukur kalau ternyata saya juga tidak tergolong manusia yang buta hati. semoga.
pagi ini juga saya membaca berita menarik di halaman depan koran. sejumlah pemuda membakar topeng seorang tokoh politik nasional. topeng yang dibakar itu bergambar seorang ketua partai besar. itu dilakukan karena pemuda itu kecewa caleg yang didukung dipecat partainya. tokoh asal sulsel itu dipecat karena diduga terlibat korupsi. petugas kpk menangkapnya dengan barang bukti uang senilai miliaran rupiah. pemuda tadi itu tidak hanya membakar, tapi juga mengancam memboikot partai yang memecat tokoh dukungannya itu pada pemilu.
saya tidak tahu apa yang membuat pemuda itu sebegitu rupa membela sang tokoh. kalau mereka kecewa, saya paham. tapi bukankah ada proses hukum yang akan membuktikan apakah sang tokoh bersalah atau tidak. kalau kecewa tokohnya dipecat, bukankah itu memang sudah hak partai. mengapa tidak mendukung dengan cara-cara elegan saja, misalnya meminta sang tokoh tegar dan berkomitmen tidak akan memilih caleg lain selain sang tokoh.
seorang kolega tokoh yang ditangkap itu saya minta komentarnya sesaat setelah sang tokoh tertangkap. dia juga seorang wakil rakyat yang bertugas di jakarta. awalnya ia menolak berkomentar karena persoalan tenggang rasa. namun, dia akhirnya mengatakan, saatnya rakyat memilih wakilnya sesuai pertimbangan nurani. bukan karena uang. demokrasi katanya hanya bisa dibangun dengan kejujuran dan sportivitas.
katanya, uang memang perlu, tapi jangan sampai membuat hati kita buta.
makassar, 15.30 wita
sabtu 07 maret 2008
Langganan:
Postingan (Atom)