di umur 12 tahun, suatu hari tanpa sengaja saya mendengar lagu berjudul kasmaran di sebuah tape recorder. entah mengapa saya tiba-tiba merasa senang dengan lagu itu, padahal saya baru akil balik waktu itu. belakangan baru tahu kalau penyanyi lagu itu iga mawarni. iga begitu memukau waktu itu. waktu pun terus berlalu. beberapa kali kemudian saya menyaksikan iga mawarni di televisi. kagum akan suaranya dan wajah manisnya.
malam ini saya duduk merumput di halaman depan gedung tua fort rotterdam. langit cerah. udara bulan agustus berembus hangat. di sebuah panggung megah, iga mawarni melantunkan "andai". suaranya tetap jernih. sangat jazzy. ini pertama kalinya saya melihatnya langsung. saya ke rotterdam malam itu tujuannya menonton jazz@fort_rotterdam yang dihadiri ratusan musisi jazz. tapi saya paling saya tunggu memang penampilan iga.
meminjam kamera seorang teman di lokasi pertunjukan, saya lalu menjepret iga di panggung sebanyak lima atau enam kali. saya puas dengan hasil foto saya. mungkin komposisi dan pencahayaan foto itu tidak begitu baik, tapi saya selalu menganggapnya baik. seorang teman kemudian mempertanyakan mengapa saya harus menyenangi penyanyi jazz, bukankah sangat banyak penyanyi melayu yang belakangan kian memenuhi ruang di televisi.
lebih jauh lagi, teman itu bertanya mengapa saya suka jazz. apa alasannya, kapan mulai, dan banyak lagi. saya mengatakan, "jazz cocok dengan jiwa saya!". saya tidak tahu apa yang mendorong saya harus ke rotterdam malam ini. apa yang membuat saya rela berselonjoran di halaman rettordam. apa yang mebuat saya menjauhi liputan. jawabnya jazz.
saya sulit mendefiniskan apa alasan sehingga saya suka jazz. jazz itu didengarkan. bukan untuk dipikirkan. itu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar