Senin, 19 Januari 2009

bro


hari ini sungguh saya kembali dibuat takjub oleh sebuah dimensi bernama waktu. selama ini terkadang saya merasa waktu seolah bergulir sangat lamban, terkadang pula sebaliknya-berlalu begitu cepat tanpa terasa. sungguh saya terpana saat menyadari kalau besok ternyata sudah sebulan saya berkutat di kota ini. sudah sebulan menjadi seorang wartawan di kota metropolitan ini. ya, menjadi wartawan-sebuah pekerjaan yang hingga kini belum saya mengerti mengapa ia begitu kuat menarik saya, hingga masuk dan terbenam di dalamnya.

kembali ke soal waktu, entah apa yang membuat waktu di makassar ini seolah berlalu tanpa terasa. saya menduga hanya dua kemungkinan; tekanan pekerjaan yang membuat saya kehabisan waktu berpikir tentang waktu itu sendiri; atau justru sedang nyaman menikmati suasana di tempat 'baru' ini. atau, mungkin waktu tak terasa karena sekarang sedang musim hujan, sehingga waktu saya habis 'memaki' hujan yang tak pernah mau kompromi di saat saya sedang memburu target liputan. cerita bisa saja lain kalau kemarau tiba nanti.

ketika pertama kali mendapat kabar dipindahkan bekerja ke kota ini, saya langsung diperangkap perasaan bimbang dan was-was. jujur, kota ini sungguh tidak saya sukai. makassar bagi saya begitu membosankan. macet di mana-mana. kekerasan ada di setiap sudut, minimal itu yang ditampilkan televisi hampir di tiap jamnya. setiap kali ada kesempatan berkunjung ke kota ini, saya merasa tidak betah dan ingin segera pergi lagi. entah apa yang membuat itu semua. padahal, lima tahun saya menghabiskan waktu di kota ini semasa kuliah dulu. dan saat itu semua baik-baik saja.

akhirnya saya memutuskan berangkat ke kota ini sambil berusaha tanpa dibebani perasaan dan pikiran apa-apa. saya berpisah dengan dua saudara saya, yang selama dua tahun ini kami terus bersama-sama, tanpa ada hal yang didramatisasi. saya ke makassar, seolah sedang pergi ke suatu tempat pada pagi hari dan akan kembali lagi sorenya. itu saya lakukan karena tidak ingin kakak saya, epping dan adik saya askin merasa kehilangan sesuatu akibat kepergian saya. lebih-lebih saya tidak ingin merasa kehilangan mereka. apalagi, kami berpisah untuk waktu setahun, dua tahun, atau mungkin sepuluh tahun ke depan. semuanya akhirnya berjalan seperti yang saya inginkan. semua berlalu baik-baik saja, hingga hari ini, hari ke tiga puluh. sudah sebulan saya di kota yang ternyata tidak semuram dengan apa yang saya bayangkan. tidak seburuk kabar di televisi yang membuat orang-orang luar merasa bergidik saat mendengar kota ini disebut.

dulu ibu saya punya cita-cita besar. beliau berangan-angan memiliki sebuah rumah. sebuah rumah yang mungkin ukurannya cukup besar, tapi saya yakin itu tidak mewah. di pikiran ibu, rumah itu memanjang dan berpetak-petak. "saya ingin kalian semua tinggal di setiap petak rumah itu. saya ingin kalian tidak ada yang berpisah dan rukun sampai kapanpun," ujar ibu berkali-kali dalam waktu berbeda.

mendengar itu, kami bersaudara tak ada yang menanggapi. pikiran kecil kami saat itu, bagaimana mungkin itu terjadi. ibu masih menyimpan cita-cita besarnya itu sampai beliau menghadap sang pemilik waktu. saat beliau pergi, yang disusul bapak, saya baru menyadari mengapa ibu memendam hasrat seperti itu. beliau rupanya telah menancapkan rasa memiliki yang luar biasa dalamnya di antara kami anak-anaknya. hasil luar biasa dari itu semua adalah tumbuhnya rasa persaudaraan yang dalam pada kami. makanya, sekarang saya tidak heran ketika adik bungsu saya, me, menghafal semua tanggal kelahiran kami, begitupun hampir semua kami menyimpan foto masing-masing di dalam dompet, hingga hari ini. setiap kali melihat foto-foto itu, saya ingat ibu, juga rumah berpetak tujuh yang dicita-citakannya.

saya tidak mengatakan apapun, tidak juga pesan, kepada kedua saudara saya saat berangkat ke kota ini. tapi epping dan askin pasti memahami pilihan saya, meski awalnya saya yakin mereka amat berat. saat menjabat tangan mereka, batin saya berbisik, "kita semua harus menjemput masa depan kita bro. untuk kehidupan esok yang lebih baik..." epping dan askin tidak berkata apa-apa saat itu. tapi saya tahu mereka mendengar suara batin saya itu. lewat mata keduanya, saya menangkap doa. doa yang tiada henti mereka rapalkan, hingga ujung waktu.

(foto: vidayyub ahmad/sindo sulsel)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar