Jumat, 20 Februari 2009

sahabat

makassar, 20 februari, 20.30

dua hari ini saya merasa mulai lega karena telah berjumpa dengan dua saudara perempuan saya. karena kesibukan masing-masing, kami jarang betemu dalam dua bulan ini. kak lily yang datang dari palopo, seperti biasa, kembali memberi wejangan-wejangan ke saya. itu biasa dilakukannya. tapi saya meganggapnya biasa saja, tanpa perlu terlalu peduli. wajah kakak saya itu selalu mengingatkan saya pada almarhum ibu. saya menyebutnya selembar kesabaran yang tak lekang oleh sebuah kemarau panjang sekalipun. saya amat menyayangi sekaligus menghormatinya. dia selalu memberi semangat saat saya merasa patah arang. kami sangat dekat dan akrab. kepadanya saya terbuka dalam hal apa saja.

saya juga berjumpa adik saya metik dua hari ini. selama ini kami jarang ketemu karena masing-masing sibuk. padahal kami masih sama-sama di makassar. saya perhatikan, adik saya itu sangat jarang mau menatap mata saya. mungkin saya dianggap terlalu posesif terhadapnya. baginya, mungkin saja saya ini kakak yang sangat tidak menyenangkan. mungkin saya dianggap teramat protektif, sampai jam pulang kuliahnya setiap hari pun saya harus tahu. tapi saya pernah bilang kepadanya: ini saya lakukan karena ingin tidak terjadi apa-apa padanya. saya tahu, itu kadang sulit diterimanya. melihat wajah adik bungsu saya itu juga selalu mengingatkan saya pada ibu. foto hitam putih ibu sewaktu muda kurang lebih seperti metik. cantik. ibu berpulang saat metik masih 11 tahun.

saya selama ini beranggapan bahwa kualitas cinta yang sebenarnya hanya bisa didapatkan dari kedua orang tua dan saudara kita masing-masing. namun anggapan itu rupanya salah. paling tidak sejak saya mengenal seorang sahabat saya. dia saya panggil kak bahar. dia berumur sekitar 40 tahun. kami bertemu suatu hari saat saya masih bertugas di bone. dia pribadi yang hangat, menyenangkan. satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah sikap dermanya. bukan hanya kepada saya, tapi hampir kepada seluruh geng wartawan "terkucil" di bone dulu. istilah terkucil ini saya pakai untuk menggambarkan perlakuan terhadap kami yang selalu berusaha tidak kompromi dengan uang sogokan dan kekuasaan yang korup di bone dulu. bukan sok idealis, seperti yang sering ditudingkan. ini semata sikap untuk menjadi manusia yang baik dan benar. mencoba punya prinsip dan merasa tak perlu melacurkan diri untuk sekadar bertahan dari kerasnya hidup.

kembali ke kak bahar, saya berkali-kali harus mengecewakannya saat menolak setiap pemberiannya. padahal saya tahu dia sangat tulus. saya merasa tidak enak hati saja selalu dibantu olehnya.

orang pertama tempat saya pamit sebelum ke makassar adalah kak bahar. lagi-lagi dia memberi saya sesuatu. tapi pemberian terakhir itu tidak lagisaya tolak. saya lebih memilih meyakinkan diri bahwa itu rezeki yang dikirimkan tuhan melalui tangan orang yang baik hati ini. dengan istri beliau pun kami sangat akrab. meskipun, kami juga sangat menghormatinya. saking hormatnya, sampai-sampai saya tidak tahu siapa nama beliau, padahal kami berinteraksi sekitar setahun. kak bahar mengaku akan kehilangan teman saat saya pamit ke makassar.

tiga hari lalu saya dikagetkan dengan undangan makan malam beliau. katanya, dia sedang berada di sebuah warung bersama istrinya, yang selalu kami panggil dengan sebutan ibu atau kak.

undangan makan malam tempo hari itu saya tolak dengan alasan sedang sibuk mengejar deadline. saya berusaha lupa kalau beliau berdua sedang di makassar dan sedang berusaha bertemu saya. berselang sejam setelah undangan makan malam, beliau menelepon saya lagi. katanya dia ada di lobi kantor saya. saat bersua itu, beliau menyodorkan kantung kresek hitam. "ini buat makan malam," katanya, sebelum berlalu karena dia tidak ingin mengganggu saya lebih lama.

saya memakan makanan itu sambil terus berpikir bahwa betapa beruntungnya saya dipertemukan dengan manusia dengan kualitas pribadi seperti kak bahar. saya membatin, kualitas orang ini telah melampaui surga. saya hanya berharap mampu mendekati kualitas pribadi yang dimilikinya.

saat menulis ini, saya membayangkan beliau berdua sedang menonton tv di rumahnya. mungkin sepi sedang menguasai ruang tengah ruang keluarga itu. saya tahu kak bahar dan ibu sampai kini masih terus berdoa agar dikaruniai seorang buah hati. sayang, tuhan belum juga berkenan meluluskan itu.

saya berjanji setiap waktu akan berdoa untuk kak bahar, saudara-saudara saya dan sahabat-sahabat yang baik hati. saya bahagia memiliki mereka. malam ini saya tiba-tiba merasa orang paling kaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar