Rabu, 04 Februari 2009

risiko


betapa murahnya nyawa manusia di negeri ini. saya tertegun lama saat menyaksikan tayangan televisi sepanjang sore kemarin yang menayangkan adegan aksi demonstrasi di medan yang berakhir tragedi. nyawa ketua dprd sumatera utara, abdul azis angkat, terenggut paksa setelah ia diserang massa yang beringas. saya tiba-tiba merasa sangat ngeri dengan kondisi keamanan di sekitar saya. hemat saya, seorang pejabat negara saja dapat diserang oleh massa beringas tanpa ada perlindungan yang berarti. jika pejabat saja begitu mudahnya disentuh dan dianiaya, bagaimana dengan rakyat biasa? saya sebagai rakyat biasa tiba-tiba merasa sudah tidak ada lagi ruang yang aman untuk berlindung di negeri ini.

bagaimanapun, setiap warga negara punya hak hidup yang dilindungi oleh negara. maka, kewajiban negara untuk menjaga agar hak hidup yang merupakan hak asasi setiap orang itu tetap terjamin. tapi yang terjadi, hak hidup itu ternyata amat rentan untuk terenggut. tak terkecuali di tempat yang paling kita anggap aman sekalipun. dalam kondisi tertentu, setiap kita ternyata dituntut untuk melindungi diri sendiri. dalam kondisi itu, negara itu tidak ada. dalam kondisi itu, negara berubah menjadi hanya teks di atas kertas. itu yang terjadi ketika ketua dprd sumut dengan leluasa dianiaya oleh massa. polisi sebagai alat keamanan negara nyaris tidak terlihat di situ. negara dalam kondisi itu tidak bisa dimintai apa-apa. sekadar sepetak ruang kecil buat berlindung sejenak sekalipun. saya tahu, azis angkat saat itu pasti telah berusaha keras melindungi diri dengan caranya sindiri. sayang dia tidak berdaya.

saya tiba-tiba merasa sangat terancam beberapa hari ke depan ini. bekerja sebagai wartawan menuntut saya untuk selalu mampu menemukan "masalah" orang lain. dan dalam sejarah manusia, tak satupun orang yang senang apabila masalah yang dibuatnya dikuak ke muka umum. hampir semua orang selalu ingin masalah yang dibuatnya dibungkus rapat. kalau perlu dengan cara apapun. maka, hal yang wajar ketika orang yang masalahnya diungkap menjadi berang dan bisa melakukan apa saja agar kemapanannya tetap terjaga. di sinilah saya sering merasa terancam. saya sering berpikir mundur, merasa sebagai orang nekad telah memilih pekerjaan ini. sebuah pekerjaan yang selalu bersinggungan dengan risiko. saya tahu ancaman itu bisa datang kapan saja. dan siap merenggut apa saja. dan saat itu tidak sesuatu pun kekuatan, kecuali tuhan, yang bisa melindungi saya. kekuatan negara hanya mungkin ada saat kami sudah menjadi korban. negara hanya tinggal menggunakan hukum positif yang dibuatnya untuk mengganjar orang-orang yang merenggut hak aman dan hak hidup kami itu.

sekitar 15 tahun silam saya sampaikan niat saya ke ibu untuk menjadi wartawan. saat itu ibu menertawai saya. saya tidak tahu apa arti tawa ibu saat itu. tapi saya tidak pernah menyalahkan ibu yang menertawai cita-cita saya. karena, sampai hari ini pun saya belum bisa memberikan apapun sebagai kebanggaan dari pekerjaan ini kepada ibu, kalau pun beliau seandainya beliau masih hidup. saya tahu, untuk seorang ibu yang tumbuh di lingkungan tradisional, akan sangat sulit menerima anaknya bercita-cita wartawan. mungkin ibu akan tersenyum kalau cita-cita saya saat itu pengusaha atau pns.

tapi seandainya saja beliau masih hidup, saya akan yakinkan beliau bahwa pekerjaan ini sudah menjadi jalan hidup saya. jalan yang saya yakini lurus dan akan membukakan banyak pintu-pintu surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar