makassar, 20 februari, 20.30
dua hari ini saya merasa mulai lega karena telah berjumpa dengan dua saudara perempuan saya. karena kesibukan masing-masing, kami jarang betemu dalam dua bulan ini. kak lily yang datang dari palopo, seperti biasa, kembali memberi wejangan-wejangan ke saya. itu biasa dilakukannya. tapi saya meganggapnya biasa saja, tanpa perlu terlalu peduli. wajah kakak saya itu selalu mengingatkan saya pada almarhum ibu. saya menyebutnya selembar kesabaran yang tak lekang oleh sebuah kemarau panjang sekalipun. saya amat menyayangi sekaligus menghormatinya. dia selalu memberi semangat saat saya merasa patah arang. kami sangat dekat dan akrab. kepadanya saya terbuka dalam hal apa saja.
saya juga berjumpa adik saya metik dua hari ini. selama ini kami jarang ketemu karena masing-masing sibuk. padahal kami masih sama-sama di makassar. saya perhatikan, adik saya itu sangat jarang mau menatap mata saya. mungkin saya dianggap terlalu posesif terhadapnya. baginya, mungkin saja saya ini kakak yang sangat tidak menyenangkan. mungkin saya dianggap teramat protektif, sampai jam pulang kuliahnya setiap hari pun saya harus tahu. tapi saya pernah bilang kepadanya: ini saya lakukan karena ingin tidak terjadi apa-apa padanya. saya tahu, itu kadang sulit diterimanya. melihat wajah adik bungsu saya itu juga selalu mengingatkan saya pada ibu. foto hitam putih ibu sewaktu muda kurang lebih seperti metik. cantik. ibu berpulang saat metik masih 11 tahun.
saya selama ini beranggapan bahwa kualitas cinta yang sebenarnya hanya bisa didapatkan dari kedua orang tua dan saudara kita masing-masing. namun anggapan itu rupanya salah. paling tidak sejak saya mengenal seorang sahabat saya. dia saya panggil kak bahar. dia berumur sekitar 40 tahun. kami bertemu suatu hari saat saya masih bertugas di bone. dia pribadi yang hangat, menyenangkan. satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah sikap dermanya. bukan hanya kepada saya, tapi hampir kepada seluruh geng wartawan "terkucil" di bone dulu. istilah terkucil ini saya pakai untuk menggambarkan perlakuan terhadap kami yang selalu berusaha tidak kompromi dengan uang sogokan dan kekuasaan yang korup di bone dulu. bukan sok idealis, seperti yang sering ditudingkan. ini semata sikap untuk menjadi manusia yang baik dan benar. mencoba punya prinsip dan merasa tak perlu melacurkan diri untuk sekadar bertahan dari kerasnya hidup.
kembali ke kak bahar, saya berkali-kali harus mengecewakannya saat menolak setiap pemberiannya. padahal saya tahu dia sangat tulus. saya merasa tidak enak hati saja selalu dibantu olehnya.
orang pertama tempat saya pamit sebelum ke makassar adalah kak bahar. lagi-lagi dia memberi saya sesuatu. tapi pemberian terakhir itu tidak lagisaya tolak. saya lebih memilih meyakinkan diri bahwa itu rezeki yang dikirimkan tuhan melalui tangan orang yang baik hati ini. dengan istri beliau pun kami sangat akrab. meskipun, kami juga sangat menghormatinya. saking hormatnya, sampai-sampai saya tidak tahu siapa nama beliau, padahal kami berinteraksi sekitar setahun. kak bahar mengaku akan kehilangan teman saat saya pamit ke makassar.
tiga hari lalu saya dikagetkan dengan undangan makan malam beliau. katanya, dia sedang berada di sebuah warung bersama istrinya, yang selalu kami panggil dengan sebutan ibu atau kak.
undangan makan malam tempo hari itu saya tolak dengan alasan sedang sibuk mengejar deadline. saya berusaha lupa kalau beliau berdua sedang di makassar dan sedang berusaha bertemu saya. berselang sejam setelah undangan makan malam, beliau menelepon saya lagi. katanya dia ada di lobi kantor saya. saat bersua itu, beliau menyodorkan kantung kresek hitam. "ini buat makan malam," katanya, sebelum berlalu karena dia tidak ingin mengganggu saya lebih lama.
saya memakan makanan itu sambil terus berpikir bahwa betapa beruntungnya saya dipertemukan dengan manusia dengan kualitas pribadi seperti kak bahar. saya membatin, kualitas orang ini telah melampaui surga. saya hanya berharap mampu mendekati kualitas pribadi yang dimilikinya.
saat menulis ini, saya membayangkan beliau berdua sedang menonton tv di rumahnya. mungkin sepi sedang menguasai ruang tengah ruang keluarga itu. saya tahu kak bahar dan ibu sampai kini masih terus berdoa agar dikaruniai seorang buah hati. sayang, tuhan belum juga berkenan meluluskan itu.
saya berjanji setiap waktu akan berdoa untuk kak bahar, saudara-saudara saya dan sahabat-sahabat yang baik hati. saya bahagia memiliki mereka. malam ini saya tiba-tiba merasa orang paling kaya.
Jumat, 20 Februari 2009
Sabtu, 07 Februari 2009
godot

seperti menunggu godot. penantian yang tak pernah pasti dan berujung sia-sia...
sastrawan samuel becket dalam naskah teater waiting for godot mengisahkan dua orang tokoh, vladimir dan estragon, yang menanti kedatangan seorang tokoh bernama godot. namun, hingga cerita selesai, tokoh godot yang dinantikan vladimir dan estragon itu tidak pernah muncul. godot akhirnya hanya menjadi sebuah nama tanpa wujud. sebuah simbol bagi penantian panjang. bahkan, penantian yang sia-sia.
beberapa hari terakhir ini saya melihat wajah kawan-kawan wartawan di sindo makassar tak ubahnya tokoh vladimir dan estragon dalam cerita klasik itu. namun, wujud godot yang ditunggu kawan-kawan di sindo makassar berupa lembaran kontrak kerja pengangkatan menjadi karyawan resmi perusahaan. awalnya, penantian kawan-kawan itu hanyalah penantian biasa saja. tak ada harapan besar di situ. namun, seiring perjalanan waktu, penantian kawan-kawan itu berubah menjadi sesuatu yang menjemukan, bahkan menjengkelkan.
di awal-awal menjadi bagian komunitas ini, telinga saya pernah mendengar bahwa akan ada pengangkatan menjadi karyawan tetap perusahaan setelah kami bekerja enam bulan. itu kejadiannya sekitar Agustus 2007. sebagian kawan-kawan saat itu kemudian berhitung maju. mereka lalu yakin akan menjadi karyawan perusahaan, bukan pegawai kontrak lagi, pada januari 2008. asa itu terus tumbuh subur karena dipupuk dengan taburan janji dari manajemen. namun, kenyataan rupanya jauh panggang dari api. pengangkatan itu ditunda. kawan-kawan pun saat itu cenderung belum mempersoalkan. manajemen kemudian menjanjikan lagi akan menjadikan kami organik pada tengah 2008. saat janji itu jatuh tempo lagi, kembali itu tidak dipenuhi. tawaran manajemen mulur lagi menjadi januari 2009.
saya salut dengan semangat kawan-kawan di sini. kendati janji-janji tidak juga mewujud, mereka berusaha tetap profesional dengan bekerja setiap hari. tapi saya tidak tahu, apakah mereka masih bekerja dengan hati atau sekadar menggugurkan kewajiban dengan datang menyetor berita. sebagian teman mengaku tidak masalah belum menjadi karyawan tetap. yang mereka sesalkan adalah janji-janji yang tidak ditepati. sebagian mengaku semangat dan motivasi menurun karena merasa dipermainkan. kondisi yang harus dimaklumi, karena orang pasti berbeda-beda dalam memperlakukan janji. saya ingat pesan seorang bijak. katanya jangan terlalu terbang tinggi oleh sebuah janji, biar jatuhnya nanti tidak terlalu sakit. bersyukur saya termasuk yang memegang pesan itu. saya tidak pernah berharap terlalu banyak. konon itu cara yang baik untuk tidak kecewa berat.
sekarang sudah februari. januari yang dijanjikan sudah lewat sebulan. namun, saat januari tiba sebulan lalu, ada yang berbeda dari kejadian-kejadian sebelumnya. ini tidak biasanya dilakukan pihak manajemen. saya tidak dengar lagi ada janji pengangkatan. yang ada kini justru kabar buruk, yakni kemungkinan ada kawan yang tidak diangkat, bahkan ada yang harus dieliminasi. tapi semua masih kabar kabur. meski saya tahu tidak bakal ada asap jika tak ada api. saya hanya berharap kabar buruk itu tidak menjadi nyata. saya bahkan tidak mau memikirkan itu dua kali.
saya tahu, kawan-kawan di sindo makassar, termasuk juga saya, tetap menanti janji pengangkatan yang sekian kali diucapkan dan diingkari itu. saya lihat kawan-kawan juga sudah sangat jarang bertanya tentang status karyawan itu. entah apa yang ada di pikiran masing-masing kini. mungkin ada yang sudah lelah bertanya, atau pasrah, atau marah. kalau toh marah, mereka sejauh ini hanya bisa marah dalam hati.
saat menulis ini saya terus diliputi rasa prihatin. prihatin karena menjumpai nasib kami layaknya vladimir dan estragon yang terus menunggu godot. setia menunggu sesuatu yang tidak pernah ada.
foto: internet
Rabu, 04 Februari 2009
risiko

betapa murahnya nyawa manusia di negeri ini. saya tertegun lama saat menyaksikan tayangan televisi sepanjang sore kemarin yang menayangkan adegan aksi demonstrasi di medan yang berakhir tragedi. nyawa ketua dprd sumatera utara, abdul azis angkat, terenggut paksa setelah ia diserang massa yang beringas. saya tiba-tiba merasa sangat ngeri dengan kondisi keamanan di sekitar saya. hemat saya, seorang pejabat negara saja dapat diserang oleh massa beringas tanpa ada perlindungan yang berarti. jika pejabat saja begitu mudahnya disentuh dan dianiaya, bagaimana dengan rakyat biasa? saya sebagai rakyat biasa tiba-tiba merasa sudah tidak ada lagi ruang yang aman untuk berlindung di negeri ini.
bagaimanapun, setiap warga negara punya hak hidup yang dilindungi oleh negara. maka, kewajiban negara untuk menjaga agar hak hidup yang merupakan hak asasi setiap orang itu tetap terjamin. tapi yang terjadi, hak hidup itu ternyata amat rentan untuk terenggut. tak terkecuali di tempat yang paling kita anggap aman sekalipun. dalam kondisi tertentu, setiap kita ternyata dituntut untuk melindungi diri sendiri. dalam kondisi itu, negara itu tidak ada. dalam kondisi itu, negara berubah menjadi hanya teks di atas kertas. itu yang terjadi ketika ketua dprd sumut dengan leluasa dianiaya oleh massa. polisi sebagai alat keamanan negara nyaris tidak terlihat di situ. negara dalam kondisi itu tidak bisa dimintai apa-apa. sekadar sepetak ruang kecil buat berlindung sejenak sekalipun. saya tahu, azis angkat saat itu pasti telah berusaha keras melindungi diri dengan caranya sindiri. sayang dia tidak berdaya.
saya tiba-tiba merasa sangat terancam beberapa hari ke depan ini. bekerja sebagai wartawan menuntut saya untuk selalu mampu menemukan "masalah" orang lain. dan dalam sejarah manusia, tak satupun orang yang senang apabila masalah yang dibuatnya dikuak ke muka umum. hampir semua orang selalu ingin masalah yang dibuatnya dibungkus rapat. kalau perlu dengan cara apapun. maka, hal yang wajar ketika orang yang masalahnya diungkap menjadi berang dan bisa melakukan apa saja agar kemapanannya tetap terjaga. di sinilah saya sering merasa terancam. saya sering berpikir mundur, merasa sebagai orang nekad telah memilih pekerjaan ini. sebuah pekerjaan yang selalu bersinggungan dengan risiko. saya tahu ancaman itu bisa datang kapan saja. dan siap merenggut apa saja. dan saat itu tidak sesuatu pun kekuatan, kecuali tuhan, yang bisa melindungi saya. kekuatan negara hanya mungkin ada saat kami sudah menjadi korban. negara hanya tinggal menggunakan hukum positif yang dibuatnya untuk mengganjar orang-orang yang merenggut hak aman dan hak hidup kami itu.
sekitar 15 tahun silam saya sampaikan niat saya ke ibu untuk menjadi wartawan. saat itu ibu menertawai saya. saya tidak tahu apa arti tawa ibu saat itu. tapi saya tidak pernah menyalahkan ibu yang menertawai cita-cita saya. karena, sampai hari ini pun saya belum bisa memberikan apapun sebagai kebanggaan dari pekerjaan ini kepada ibu, kalau pun beliau seandainya beliau masih hidup. saya tahu, untuk seorang ibu yang tumbuh di lingkungan tradisional, akan sangat sulit menerima anaknya bercita-cita wartawan. mungkin ibu akan tersenyum kalau cita-cita saya saat itu pengusaha atau pns.
tapi seandainya saja beliau masih hidup, saya akan yakinkan beliau bahwa pekerjaan ini sudah menjadi jalan hidup saya. jalan yang saya yakini lurus dan akan membukakan banyak pintu-pintu surga.
Langganan:
Postingan (Atom)