Jumat, 09 Januari 2009

unforgetable


saya menulis teks ini seraya terus tersenyum sendiri. saya yakin pasti akan sangat sulit melupakan peristiwa malam ini. untuk membuat halaman sederhana ini, saya 'membajak' mas syahlan yang baik hati. saat saya meminta dia buatkan blog, dia sempat heran. roman muka heran itu terbaca jelas di wajahnya. sambil dahinya mengernyit, dia bilang, "hari gini baru bikin blog?". tapi saya tidak hirau padanya. akhirnya saya sukses memaksanya begadang. dia baru saya izinkan tidur pada pukul empat pagi. dan penyiksaan saya padanya belum berhenti disitu. pukul enam pagi dia kembali saya paksa bangun. dia saya minta membikin tampilan yang sesuai dengan yang saya mau. sedikit memelas, saya bilang, "maaf mas, saya ini banyak maunya tapi ndak tahu apa-apa," kataku pura-pura menghibur. mengejutkan, dia menimpali dengan kalimat bijak bak seorang raja, "saya juga begitu dulu mas. tidak tahu apa-apa. tapi untuk menjadi bagus, memang ndak boleh cepat puas. harus sering bertanya dan banyak belajar". dalam hati, baik juga ini orang. terang-terang hidupnya sudah saya buat susah sepanjang malam, masih bisa-bisanya dia memberi petuah.


dulu, sekitar empat tahun lalu, usaha membikin halaman seperti ini sudah pernah saya coba. waktu itu, teman sekantor saya sudah siap membantu membuatkan. saat itu saya merasa perlu tempat untuk menghibur diri di sela-sela jadwal liputan yang padat. tapi entah alasan apa blog itu tidak pernah terwujud, sampai akhirnya saya berhenti bekerja di kantor itu. saya kadang merasa harus mencatat hal-hal unik di sekitar saya, kejadian yang kadang membuat saya tercenung, jengkel, marah, sedih, bahagia, semringah, dan perasaan-perasaan lainnya yang datang silih berganti saat berada di luar sana. saya merasa harus mencatat dan mencatat, barangkali sekadar mengasah agar kepekaan nurani tidak semakin tumpul oleh dunia yang sepertinya semakin hari semakin tidak toleran terhadap perbedaan. saat itu saya merasa harus mencatat, dengan harapan mungkin ada orang lain yang bisa beri sesuatu dan saya jadikan dia tempat berbagi apa saja.

malam ini keinginan sederhana itu dipuaskan mas syahlan. melalui ini pula saya tidak lupa berterima kasih kepada sobat ayyub yang merelakan fotonya dipajang di sini. saya sangat suka foto itu. sekumpulan bocah yang berlompatan saat mandi di laut losari di kala senja. saya terkenang masa kecil saya di desa dulu. itu sekitar 20 tahun lalu. bersama sahabat-sahabat masa kecil yang sekarang berpencar entah ke mana, kami menikmati arus dan kecipak air sungai yang mengalir membelah desa kami setiap hari saat pulang sekolah. air sungai itu terkadang asin karena jarak laut yang sangat dekat. saya masih ingat jelas ketika pertama kali belajar berenang yang memaksaku harus berkali-kali meneguk
air asin yang membuat dada sesak. tapi memang benar, di dunia tidak ada yang percuma. pengalaman masa kecil di sungai itulah yang membuatku sekarang bisa berenang. berenang di sungai itu salah satu babakan terindah dalam masa kanak-kanak saya. saya teringat ketika harus mengeringkan badan di bawah matahari setelah mandi, agar ibu saya tidak sampai tahu kalau saya habis mandi di sungai. tapi rupanya kedua bola mata saya yang memerahdan kulit saya yang membiru terpanggang matahari, tidak mampu membohongi ibu. setelah itu, ibu selalu menghukum saya dengan caranya yang unik: tidak menegur saya hingga esok pagi. dasar bandel, perbuatan yang tidak menyenangkan ibu itu terus saya ulang, tanpa pernah berpikir betapa khawatirnya beliau ketika saya mandi di sungai yang dalam tanpa bisa berenang. sampai suatu ketika, saya mengabarkan kabar gembira bahwa hari itu saya sudah bisa berenang ke seberang sungai. ibu hanya menggeleng-geleng. entah apa di benak ibu. setiap ibu menceramahi saya tentang bahaya mandi di sungai, bapak selalu menyela dengan bijak. menurut bapak, saya tidak mungkin bisa berenang tanpa pernah berani menyentuh air. saya masih ingat kalimat bapak itu. "siapapun tidak mungkin bisa berenang tanpa pernah berani menyentuh air". ibu dan bapak kini telah damai di sebuah dunia yang lain. sepuluh tahun silam beliau mendahului kami meninggalkan cinta dan kenangan yang kekal. di manapun setiap kali saya melihat sungai, saya terkenang ibu.

saya senang bisa memilki blog ini; sebuah tempat maya yang bisa membuatku meraih kebebasan dan kemerdekaan kecil; nilai-nilai yang tidak lagi mudah dijumpai di dunia luar sana. saya tidak tahu apakah nanti bisa cukup disiplin untuk sekadar bersetia mencatat setiap peristiwa yang menurutku harus dicatat, dan dibagikan ke orang. tapi semoga saja jawabannya iya. dan di kesempatan pertama ini saya ingin mengucapkan selamat datang kepada kawan-kawan yang akan datang menghampiri, mungkin sekadar menyapa, menyela, atau bahkan ingin memberi dan berbagi di blog ini. sebelum semua niat baik dan tulus itu terwujud, saya haturkan beribu terima kasih
. bienvenidos...

(foto: vidayyub ahmad/sindo sulsel)

1 komentar:

  1. Setelah membaca isi dari goresan yang luar biasa ini, beray rasanya tangan ini mengetik satu huruf dan menjadikannya sebagai kata kemudian kurangkai menjadi beberapa kalimat. Sebab isi dari tulisan sungguh sempurna dan tidak pantas untuk kukomentari. Tetapi terus terang, isinya sangat menyentuh sang pembaca untuk mengenang orang tua dan masa kecil yang sangat indah.

    BalasHapus