Sabtu, 17 Januari 2009

rudi


hari ini saya tetap masuk kantor kendati sebetulnya saya libur. seharian tadi, di sela-sela hujan yang tak henti-hentinya mengguyur makassar, saya berkeliling mencari rumah kos bersama sobat ary. ary kebetulan juga libur. hingga sore, tempat kos yang pas dan murah tidak juga ketemu. akhirnya saya memilih ke kantor saja, sekalian membaca berita-berita di koran hari ini.

sepekan ini halaman koran dipenuhi berita kecelakaan kapal teratai prima yang menewaskan hampi 300 penumpang. baru membaca dua paragraf berita hari ini tentang dua mayat yang kembali ditemukan, bunyi dering telepon rekan syahlan dari parepare mengusik. dia mengabarkan kalau pencarian korban teratai dihentikan.

saya mungkin tidak punya keluarga atau kenalan yang menjadi korban di kapal itu. tapi saya bisa merasakan kepiluan yang dirasakan oleh mereka yang tidak lagi bisa menemukan keluarga mereka hidup atau mati. saya tiba-tiba teringat enam saudara saya yang kini jauh. saya hanya mampu berdoa agar tuhan selalu menaungi kami dengan cinta dan keselamatan.

tragedi teratai ini menyesakkan, hanya 36 penumpang yang berhasil selamat, termasuk seluruh abk dan nakhoda kapal 17 orang. hanya delapan mayat ditemukan. selebihnya, lebih 200 orang mungkin terperangkap di lambung kapal atau mungkin sedang terapung di lautan tanpa ada yang berhasil menemukan. saya tiba-tiba ingat wajah-wajah keluarga korban yang menunggu sambil berharap di pelabuhan itu. mungkin hari ini mereka itu tidak lagi mampu menangis. tiga hari pertama pasca kecelakaan, keluarga korban masih berharap menemukan keluarga mereka dalam keadaan hidup. namun harapan itu semakin hari semakin menipis, sampai tersiar kabar kalau pencarian dihentikan di hari ke tujuh.

entah siapa yang harus disalahkan atau dikutuk atas tragedi ini. ini kecelakan laut yang kesekian kalinya. di setiap kecelekaan pejabat pemerintah umumnya hanya bisa mengucapkan kalimat turut berduka cita, sambil sesekali saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab. sikap mereka yang paling membosankan adalah ajakan mengambil hikmah di setiap musibah yang terjadi. entah berapa lagi hikmah yang harus dikumpulkan.

seorang penumpang yang selamat dari maut bernama rudi alfian. dia masih remaja usia SMA. dia kehilangan ibu, bapak, dan dua adiknya yang ikut menjadi korban di kapal itu. saya hanya bisa membayangkan, sungguh getir hari-hari yang dihadapi rudi kini. dia tidak lagi bisa mencandai dua adiknya yang masih duduk duduk di SD, rubi dan santi. dia tidak lagi mampu berkeluh kesah kepada ibunya dan bapaknya. kegetiran yang sama juga dialami seorang korban bernama nandar. dia kehilangan sekitar 20 anggota keluarganya yang ikut karam bersama kapal.

hanya keluarga korban itu yang bisa merasakan betapa dalamnya duka kehilangan orang-orang yang dicintai. sedangkan kebanyakan kita? seperti puntung rokok yang setiap hari kita empaskan ke tanah, peristiwa ini pun pasti segera berlalu dan terlupakan. kita kembali akan tertawa-tawa melihat lawakan murahan di televisi; terharu biru oleh sinetron-sinetron konyol; dan terhibur oleh sajian-sajian konyol infotaiment. sedangkan, di pelabuhan, kapal-kapal penumpang kembali akan disesaki manusia hingga melewati batas kapasitas. kapal-kapal kembali berlayar dengan peralatan keselamatan apa adanya. dan sekali lagi, setiap tragedi akan jadi tontonan kita semua. setiap tragedi, alam kembali akan disalahkan.

(foto: maman sukirman/sindo sulsel)

1 komentar:

  1. Sedih juga ya, mendengar kisah rudi. Terus terang saya mengetahui tentang korban KM Teratai hanya dari blog ini. Sejak KM Teratai tenggelam, saya hanya tau kalau kapal itu tenggelam. Tetapi untuk membaca lebih jauh tragedi kapal yang menewaskan ratusan orang itu, saya tidak berani. Perasaan takut dan sedih menghalangiku untuk membaca dan mengetahui seperti apa yang dirasakan korban dan bagaimana kondisi mereka.
    Informasi yang saya tau, hanya membaca judul dan lead berita setiap hari. Saya hanya tau, jumlah korbannya ratusan, keluarga korban tidak henti mencari keluarganya sampe membuat ritual pencarian. Selebihnya saya tidak tega membaca lebih jauh.

    BalasHapus