
teman di kantor sering bertanya, dengan siapa saya berpose di foto seukuran telapak tangan yang tertempel di dinding dekat komputer kerja saya. sambil bergurau saya menjawab kalau itu anak saya yang bungsu. saya tahu teman-teman tidak bakal percaya itu. selain mereka tahu saya masih sendiri, foto anak usia lima tahun yang saya peluk itu juga katanya lebih gagah. "ndak mungkinlah, ndak mirip banget," begitu teman-teman sering menyela.
mengapa foto itu saya tempel di dekat komputer kerja? saya juga tidak mengerti betul jawaban pastinya. saya hanya merasa perlu memasangnya di situ agar bisa sesering mungkin melihat foto itu setiap hari. anak kecil di foto itu keponakan saya, eky. lengkapnya resky afriawan. menurut ibunya, nama afriawan itu mengacu pada bulan kelahirannya, april. suatu waktu saya sempat protes kecil, mengapa dia tidak diberi nama muhammad, umar atau ali. nama-nama yang menurut saya selalu memiliki kekuatan doa.
saya selalu merindukan eky seperti saya merindukan nanda dan aqsal, dua keponakan saya yang lain. ketiga bocah itu merupakan anak dari kakak tertua saya di balikpapan. setahun lalu saya berjanji kepada eky mengunjunginya saat saya mengambil cuti tahunan. sayang, cuti itu tidak pernah kunjung datang. manajemen kantor saya hanya membolehkan orang meminta cuti, tapi belum mau mengabulkan. saya hanya berharap tahun depan sudah bisa mengunjungi anak-anak yang selalu membuat saya semangat dan mensyukuri hidup itu.
beberapa hari lalu, saya bertemu dengan anak seorang pedagang kaki lima. saya bertemu anak itu di lapak pinggir jalan di bilangan ap pettarani makassar, tempat ibunya berdagang barang kelontongan. anak itu sempat menyebutkan namanya, tapi saya sudah lupa. saat membeli minuman di lapak itu, saya tidak sengaja menemukan kaki anak itu terluka. luka itu belum kering, terkelupas dan tampak berwarna kemerahan. ibu anak itu bilang kalau anaknya ditabrak lari oleh seorang pemilik mobil. dia yakin mobil itu bukan angkutan umum melainkan mobil pribadi. anak itu tidak sempat dibawa ke dokter karena ibunya kekurangan biaya. anak perempuan itu belum bisa berjalan sempurna, masih tertatih-tatih menahan sakit di pergelangan kakinya. "kami tidak bisa menuntut apa-apa karena orang itu langsung kabur seusai menabrak," ujar ibu si anak itu lirih.
saya tercenung melihat penderitan anak yang masih berusia sekitar 8 tahun itu. saya berpikir, sungguh biadab pelaku tabrak lari itu. perilakunya masih sangat primitif; sifat yang juga dimiliki oleh banyak orang-orang besar di republik ini. orang-orang yang hanya bisa berbuat tapi tidak berani mempertanggungjawabkan apa yang diperbuatnya. saya berpikir, apa salahnya orang itu berhenti sejenak, barangkali sekadar melihat kondisi anak yang ditabrak itu. atau, sudah demikian sulitkah menjadi manusia dengan m besar di zaman ini, di tengah persaingan dan pertarungan hidup yang demikian keras? entahlah. yang pasti, saat ini saya semakin mudah menemukan orang-orang bersatus sosial namun memiliki jiwa nan kerdil.
ketika mengingat luka dan sakit yang diderita anak pedagang kaki lima itu, saya tiba-tiba ingat eky. saya tiba-tiba merasa ingin memeluknya, melindunginya, menghindarkannya dari segala bentuk kekerasan di lingkungan sekitar dia hidup. menghindarkannya dari kekerasan yang sudah terlanjur menjadi biasa di dunia yang sebagian penghuninya telah kehilangan nurani dan akal sehat, juga solidaritas dan kepekaan. salam, semoga damai selalu di bumi.
(foto: maman sukirman/sindo sulsel)
ooooo, ternyata eky itu ponakannya to. hehehehhehehe
BalasHapus