Senin, 09 Juli 2012

apa kabar makassar

saya ada di makassar dalam enam hari ini. saya datang untuk menggelar pertunjukan teater di gedung kesenian societeit de harmonie, makassar. kami dari kala teater mementaskan naskah klasik karya samuel beckett "waiting for godot". puji syukur, pertunjukan cukup sukses. saya juga bahagia bisa bertemu dengan teman-teman di sini, terutama shinta febriany, sutradara saya yang begitu saya kagumi dari waktu ke waktu. andai saja saya memujinya seperti ini di depannya, dia pasti melontarkan kata ini: "bagayana". hehe.. itu ungkapan khasnya begitu saya mencandainya. saya mengenalnya delapan atau sembilan tahun silam. dia pribadi yang baik. saya juga kagum dengan pilihan hidupnya yang memeluk erat kesenian. meski ia perempuan, tapi totalitasnya terhadap dunia seni, khususnya teater, tak ada yang menyamai. kontribusinya terhadap teater di makassar tidak tertandingi. mungkin itu salah satu alasan yang membuat saya jatuh hati padanya dan siap selalu bekerja sama dengannya. selain karena dia sangat cantik, tentu saja. ehm. wallahualam bissawab. ;)

apa kabar makassar?
apakah di musim hujan kali ini semua baik-baik saja? saya berharap musim hujan ini mampu membuat hati setiap orang ikut menjadi dingin. saya sangat membenci pertengkaran. alangkah kurang taktisnya kita jika melewati hidup dengan mengiisinya dengan pertengkaran dan perselisihan saja. mengapa kita tidak tertawa dan berbahagia saja setiap hari. itu saya yakin akan lebih indah. kita boleh marah sepanjang itu kuat alasannya dan jika ditinjau dari segala aspek, marah saat itu sangat perlu, bahkan sangat dibutuhkan. betapapun, marah perlu kontekstual juga, kan?. namun, setelah marah, tentu saja melupakan semua dan berkomitmen sesedikit mungkin untuk marah lagi di lain kesempatan.

o ya, seharusnya cuti saya berakhir 13 januari hari ini. tapi saya belum bisa balik ke jakarta karena ada perintah atasan agar tinggal dulu barang lima hari di sini. dan, akhirnya, saya kembali bekerja di kantor ini. terpaksa saya meminjam komputer teman yang dulu komputer saya. juga meja kerja yang sama. banyak kenangan tertoreh di ruangan yang lembap dengan warna tembok pucat ini. di sini saya melewati hari-hari yang penuh stres di kejar deadline pengiriman berita. ah, kadang-kadang saya merasa sungguh hidup ini hanya berputar-putar. saya menemui banyak penanda yang membuktikan kalau hidup hanya berputar saja. seperti halnya saya kembali bekerja di kantor di makassar, meski hanya sementara saja, penandanya adalah ruang. tentu bukan hanya ruang, tapi kenangan di ruangan itu. ya, saya kembali ke ruangan yang sama setelah lebih setahun, dengan problem yang sama. kenangan yang dulu ingin dikubur, juga kembali juga ke ruangan ini. saya tidak senang berada di ruangan ini terus terang. bukan karena apa, saya lebih senang melihat tempat yang baru; menciptakan kenangan. bukan justru kembali ke sebuah tempat di mana dulu ada perjuangan "berdarah-darah" di situ, perjuangan untuk lepas dari persoalan yang membelit sejak delapan atau sembilan tahun silam. sekarang apa yang terjadi? dari dulu persoalan itu tidak bisa selesai. sampai detik ini ketika saya kembali berada di ruangan ini, juga tidak ada yang selesai. nyaris tidak ada yang berubah. ikhtiar untuk melupa selalu saja dilakukan, tapi seolah-olah semakin dilakukan semakin sulit untuk dicapai.

sekarang saya berharap bisa segera ke jakarta kembali. memulai aktivitas yang rutin. dengan begitu, bisa saja saya menenggelamkan sebagian problematika hidup yang mengungkung dan membelit. saya ingin tenggelam ke pekerjaan saya. mungkin saya berada di sana sampai tua. menulis dan mengedit berita setiap hari pasti membosankan. tapi mau apalagi, itu dunia saya yang saya dekap erat dengan hangat, sebagaimana shinta febriany memeluk teater.

saya akan bekerja di kantor sampai batas kemampuan untuk bertahan. hanya dengan itu (mungkin) saya bisa menghilangkan galau akibat hasrat memiliki yang tidak berbalas. ini kedengaran melankolis, atau kata anak muda sekarang; melow. tapi jika saja kamu tahu bahwa perasaan yang sama selalu terbawa sejak delapan atau sembilan tahun, kamu akan percaya bahwa saya tidak salah. dulu saya berusaha keras untuk lepas dari ingatan-ingatan dan pikiran-pikiran tentangnya. tapi apa? nol. jarak tidak bisa begitu saja menghapus seseorang dari ingatanmu. percayalah itu. bahkan, alih-alih bisa melupakannya, menguburnya, bisa jadi kamu malah tambah mencintainya. dan, itulah yang terjadi sekarang saudara-saudara. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar